Wisata Seni Kaligrafi: Mahasiswa UIN Yogyakarta Belajar Makna Alquran dari Maestro Syaiful Adnan

  • Whatsapp
Seni kaligrafi
Para peserta wisata seni berkarya bersama maestro kaligrafi Syaiful Adnan di rumah Kaligrafi Syaiful Adnan Gamping Kidul Balecatur Sleman. dalam workshop juga dipantau oleh Prof.Dr M Baiquni,M.A dan Taufik Ridwan.(Ist)

BacaJogja — Belajar kaligrafi Islam bukan sekadar mengasah kemampuan seni, tetapi juga menjadi sarana mendalami makna dan nilai Alquran. Goresan ayat-ayat suci yang dituangkan dalam karya kaligrafi bahkan kerap menjadi bentuk dakwah kekinian yang tetap relevan lintas zaman.

Nuansa tersebut terasa dalam kegiatan Wisata Seni “Astamala Kaligrafi: Goresan Penuh Arti” yang diikuti puluhan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, anggota UKM JQH Al Mizan, di Rumah Kaligrafi Syaiful Adnan, Sabtu (20/12).

Read More

Dalam dialog seni yang berlangsung hangat, mahasiswa tampak antusias berdiskusi langsung dengan maestro kaligrafi Islam Syaiful Adnan, membahas seni, agama, hingga persoalan fikih yang kerap menjadi perdebatan di kalangan seniman Muslim.

Dialog Seni hingga Hadis Larangan Melukis Makhluk Hidup

Salah satu pertanyaan kritis datang dari Rizky, mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga. Ia mempertanyakan hadis Nabi Muhammad SAW yang melarang melukis wajah atau bentuk makhluk hidup.

Menanggapi hal tersebut, Syaiful Adnan menegaskan bahwa hadis tersebut memang sahih dan dipahami oleh para seniman Muslim. Namun, dalam praktiknya terdapat beragam pandangan dan sikap.

“Hadis itu benar adanya. Bahkan ada hadis lain yang menyebutkan bahwa siapa pun yang menggambar wajah makhluk hidup kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah untuk menghidupkan apa yang digambarnya,” ujar Syaiful Adnan.

Meski demikian, menurutnya, pilihan sikap dikembalikan kepada masing-masing seniman, sejauh didasari pemahaman dan tanggung jawab keimanan.

Hijrah Berkesenian Lewat Kaligrafi

Syaiful Adnan yang merupakan alumni ASRI Yogyakarta—embrio ISI Yogyakarta—mengaku memilih “berhijrah” dengan menekuni seni kaligrafi Islam selama puluhan tahun.

“Objek seni itu sangat banyak. Tinggal bagaimana kita mengeksplorasi benda atau ide menjadi karya seni yang indah. Saya memilih kaligrafi sebagai bentuk ikhtiar menjalankan syariat,” ungkap seniman asal Minangkabau tersebut.

Menurutnya, seni kaligrafi Islam selalu menghadirkan kesejukan, kedamaian, dan pesan spiritual bagi siapa pun yang menikmatinya.

Kolaborasi Seni dan Akademisi

Selain Syaiful Adnan, kegiatan ini juga menghadirkan Prof. Dr. M. Baiquni, MA, Ketua Dewan Guru Besar UGM yang juga dikenal sebagai seniman. Hadir pula Taufik Ridwan selaku penyelenggara kegiatan serta Endang, seniman batik kontemporer.

Kegiatan semakin semarak dengan pembagian doorprize buku biografi “Syaiful Adnan: The Legacy of Syaifuli Calligraphy”, dilanjutkan workshop pembuatan karya kaligrafi dengan eksplorasi ayat-ayat Alquran secara bebas dan penuh warna.

Workshop Kaligrafi dan Batik Kontemporer

Dalam sesi workshop, Syaiful Adnan membagikan sketsa-sketsa karyanya kepada mahasiswa. Sketsa tersebut kemudian diolah ulang oleh peserta dengan gaya dan karakter masing-masing, meski tetap terlihat pengaruh khas goresan Syaifuli yang tegas dan runcing bak mata pedang.

Tak hanya kaligrafi, peserta juga mendapatkan pengalaman membatik kontemporer bersama seniman Endang. Ia menekankan bahwa membatik membutuhkan ketelitian tinggi, terutama dalam permainan dan perpaduan warna.

“Batik bukan sekadar produk fashion. Ia adalah karya seni yang bisa dinikmati seperti seni rupa lainnya dan memiliki tingkat kesulitan yang sama,” kata Endang.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teknik seni, tetapi juga memahami nilai spiritual, filosofi, serta tanggung jawab etis dalam berkesenian.[]

Related posts