BacaJogja – RSUD Panembahan Senopati Kabupaten Bantul tercatat sebagai rumah sakit rujukan terbanyak dalam layanan Ambulans NU Care–LAZISNU PCNU Bantul sepanjang tahun 2025. Capaian ini menjadi bukti kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan daerah sekaligus sinergi kemanusiaan antara rumah sakit dan organisasi keagamaan.
Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul, dr. Atthobari, MPH., Sp.MK., menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan Layanan Ambulans NU Bantul. Hal tersebut disampaikannya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi pada Kamis (1/1/2026), menyusul dirilisnya Laporan Tahunan Layanan Ambulans NU Bantul Tahun 2025.
“Kami merasa bangga sekaligus tertantang karena RSUD Panembahan Senopati Bantul menjadi rumah sakit rujukan terbanyak oleh Ambulans NU Bantul selama tahun 2025. Ini merupakan bentuk kepercayaan yang sangat berarti bagi kami,” ungkap dr. Atthobari.
Layanan Ambulans NU Bantul Capai 13.342 Trip Sepanjang 2025
Berdasarkan laporan yang dirilis NU Care–LAZISNU PCNU Bantul, Ketua LAZISNU Bantul H. Choiron Marzuki menyebutkan bahwa sepanjang 2025 layanan Ambulans NU Bantul mencatat 13.342 trip pelayanan.
Dari total tersebut, 12.346 trip merupakan layanan ambulans pasien, sementara 996 trip lainnya adalah layanan ambulans jenazah.
“Capaian ini menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat serta tingginya kepercayaan publik terhadap layanan ambulans NU Bantul sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan Nahdlatul Ulama,” ujar H. Choiron.
RSUD Panembahan Senopati Jadi Tujuan Rujukan Utama
Dalam aspek tujuan rujukan, RSUD Panembahan Senopati Bantul menempati posisi teratas dengan 2.697 trip rujukan. Posisi berikutnya ditempati RSUP Dr. Sardjito sebanyak 2.568 trip, serta RSU PKU Bantul dengan 1.509 trip.
Selain itu, layanan Ambulans NU Bantul juga melayani rujukan ke berbagai rumah sakit lain di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya, menandakan jangkauan layanan yang luas dan fleksibel.
Dari sisi diagnosa pasien, layanan Ambulans NU Bantul paling banyak digunakan untuk pasien stroke dengan 2.814 kasus. Disusul pasien hemodialisis (HD) sebanyak 1.785 kasus, serta layanan kegawatdaruratan/IGD mencapai 1.000 kasus.
Selain itu, ambulans NU Bantul juga melayani pasien dengan diagnosa patah tulang, penyakit dalam, kanker, pasien pulang opname, hingga berbagai kondisi medis lainnya. Kategori “lainnya” tercatat paling tinggi dengan 4.850 layanan, menunjukkan luasnya kebutuhan kesehatan masyarakat yang terlayani.
Mayoritas Pasien Lansia
Dari sisi kelompok usia, layanan Ambulans NU Bantul didominasi oleh pasien lanjut usia (lansia). Kelompok usia 61–70 tahun menjadi yang terbanyak dengan 4.121 pasien, disusul usia 41–50 tahun sebanyak 3.319 pasien.
Data tersebut menegaskan peran strategis Ambulans NU Bantul dalam mendukung akses layanan kesehatan bagi kelompok rentan, khususnya lansia dengan kebutuhan rujukan medis yang tinggi.
Statistik bulanan menunjukkan kinerja layanan Ambulans NU Bantul yang relatif stabil dan konsisten sepanjang tahun 2025. Pelayanan tertinggi tercatat pada Desember dengan 1.290 trip, sementara yang terendah terjadi pada Februari dengan 936 trip.
H. Choiron Marzuki menegaskan bahwa capaian tersebut tidak lepas dari dukungan para donatur, relawan, pengurus NU, serta sinergi dengan berbagai fasilitas layanan kesehatan.
“Laporan ini menjadi wujud komitmen kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan Ambulans NU Bantul sebagai ikhtiar khidmah dan kemanusiaan,” pungkasnya.
PCNU Bantul Apresiasi Layanan Kemanusiaan
Apresiasi juga disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Bantul, Prof. Dr. Riyanta, M.Hum. Ia mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus NU Care–LAZISNU, relawan, donatur, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam layanan kemanusiaan tersebut.
Menurutnya, data layanan menunjukkan bahwa Ambulans NU Care–LAZISNU Bantul hadir melayani beragam kebutuhan kesehatan masyarakat, mulai dari stroke, hemodialisis, kegawatdaruratan IGD, patah tulang, penyakit dalam, kanker, hingga rujukan pasca rawat inap.
“Capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan wujud pengabdian dan estafet kebaikan yang harus terus dirawat. NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtimā’iyyah memiliki tanggung jawab untuk hadir di garda terdepan dalam pelayanan dan advokasi kemanusiaan,” tegasnya. (Markaban Anwar)






