Muhammadiyah Yogyakarta Mengalami Kerugian Besar

  • Whatsapp
media senior jogja
Wachid Effendi tokoh senior media di Yogyakarta, curhat kepada Taufik dan Buldan agar AdiTV yang berhenti mengudara menjadi perhatian dan keprihatinan bersama. (Istimewa)

BacaJogja – Berita tentang Muhammadiyah bersedih ini, tidak ada kaitannya dengan sikap tegas Muhammadiyah yang menarik dananya dari BSI yang diperkirakan berjumlah lebih kurang Rp 15 triliun. Juga bukan karena soal iming-iming Pemerintah Jokowi yang menawarkan pengelolaan tambang untuk Muhammadiyah yang kemungkinan ditolak.

Tetapi, berkait dengan hilangnya media dakwah di bidang televisi milik Muhammadiyah, utamanya di Yogyakarta. Sejarah mencatat, keinginan Muhammadiyah khusus di Yogyakarta untuk memiliki channel televisi untuk berdakwah.

Read More

Bertahun lalu Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY berjibaku ikut “rebutan” Channel TV analog yang hanya tersedia terbatas. Perusahaan media besar Indonesia ikut rebutan channel di Yogyakarta yang istimewa ini dan alhasil 1 channel televisi berhasil diperoleh Muhammadiyah dan dinamakan AdiTV.

Baca Juga: Pernyataan Sikap DPD Ikatan Sarjana Katolik Indonesia DIY terhadap Konsesi Tambang bagi Ormas Keagamaan

Saat itu dengan bangga Muhammadiyah memiliki stasiun TV untuk dakwah di segala bidang, semisal seni budaya, kesehatan, pendidikan, keluarga, parenting, dan lainnya.

“Saat itu kami ikut merasakan semangat hebat bagaimana Muhammadiyah Yogyakarta harus punya stasiun televisi dan bisa mengelola dengan profesional,” kenang Wachid Effendi ,S.E., MM tokoh penggiat dan pelaku media yang ikut berjuang keras merebut 1 channel televisi yang asli Karangkajen ini.

Waktu itu, semangat mengelola stasiun TV begitu terasa dan bahkan untuk pengelolaan awal di bawah kendali kampus UAD dan bahkan Kantor dan studionya pun berada di Kompleks Kampus UAD Jalan Kapas 9 Umbulharjo Yogyakarta.

Baca Juga: Apakah Ada Larangan Menyimpan Daging Kurban Lebih dari Tiga Hari Tasyrik?

Berjalannya waktu, ternyata bisnis media televisi membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Intinya, Pimpinan Muhammadiyah DIY menyerah dengan sedih menjual sahamnya ke Keluarga besar Prof.Dr HM Amien Rais. Dikhabarkan, saham 60 persen dibeli oleh Pak Amien Rais, 20 persen menjadi milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY dan sisanya 20 persen menjadi milik perorangan warga Muhammadiyah.

Sekali lagi, dengan suasana duka kemampuan keuangan milik Muhammadiyah Yogyakarta untuk mengelola AdiTV tetap menjadi masalah.

Manajemen AdiTV, setelah rapat pemegang saham berkali kali akhirnya mengumumkan mulai 1 Juni 2024 tidak lagi kuat mengudara. AdiTV pamit kepada masyarakat, khusus para pemirsa yang didominasi wargan persyarikan Muhammadiyah.

Baca Juga: Jadwal dan Tahapan Seleksi Calon Anggota Pantarlih atau PPDP untuk Pilkada Kota Yogyakarta 2024

Berita berhentinya AdiTV bersiaran membuat sosok Wachid Effendi ikut bersedih. Dia katakan, untuk kesekian kalinya Muhammadiyah Yogyakarta berduka.

Dia tidak menyalahkan siapa pun, tetapi masih berharap kepada siapa pun untuk menyelamatkan channel AdiTV yang telah diperjuangkan dipegang Muhammadiyah. Sebenarnya persoalan keuangan tidak menjadi masalah utama. “Saya yakin, misalnya alumni Muhi saja suruh memegang sahamnya, InsyaAllah jalan itu AdiTV, syaratnya harus dikelola secara lebih profesional oleh anak anak muda,” pesan Wachid yang pernah beberapa kali menjadi ketua Keluarga Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

Bahkan curhat sosok senior di media, khususnya radio pun diutarakan secara khusus kepada Taufik Ridwan direktur PT Dini Media Artha yang masih menjadi pengurus Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PW Muhammadiyah DIY juga kepada Buldanul Kuhri. Mereka berdua mendengar dengan seksama curhat dan harapan alumni Muhi 1969 dan beberapa kali menjabat ketua PRSSNI DIY ini.

Baca Juga: Panduan PPDB SD dan SMP Yogyakarta: Kuota, Syarat, Alur Pendaftaran, hingga Proses Seleksi

“InsyaAllah gagasan untuk menyelamatkan channel televisi yang telah diperjuangkan Muhammadiyah Yogyakarta akan kami angkat ke media, agar menjadi keprihatinan bersama, utamanya kampus-kampus seperti UAD atau UMY dan UNIDA agar media dakwah di bidang televisi tetap terpegang dan dikelola secara lebih baik dan kalau perlu menjadi televisi khusus hiburan, kesehatan dan pendidikan fokusnya,” harap Taufik Ridwan.

Masih menurut Wachid Effendi, channel televisi swasta seberat apapun pengelolaannya karena kompetisi media dan sosial media harus menjadi pemikiran para stakeholder Muhammadiyah Yogyakata.

Saat ini AdiTV harus tetap mengudara dengan baik, meskipun dengan program terbatas sebelum Balai Monitor memutuskan untuk mencabutnya. “Malu banget kalau sampai AdiTV yang dengan susah payah kita raih, kemudian hilang dengan sia sia,” kata Wachid.

Siapa pun warga Muhammadiyah jangan sampai cuek melihat sisi baik dakwah lewat media. []

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *