BacaJogja – Tri Cahyaningsih nyaris menggapai mimpinya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Skor 476 yang ia raih dalam Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Jawa Tengah menjadikannya peserta dengan nilai tertinggi. Namun, harapan itu kandas di tahap seleksi kesehatan. Hanya karena kurang 0,5 sentimeter dari batas minimal tinggi badan 158 cm, impian yang telah ia kejar selama bertahun-tahun pun pupus.
Kekecewaan di Ambang Kesuksesan
“Minimal tinggi 158 sentimeter. Nah, pas di sana (seleksi kesehatan), cuma 157,5 aja,” ujar Tri lirih, mengingat kembali momen yang membuatnya tak bisa melangkah lebih jauh.
Bagi sebagian orang, setengah sentimeter mungkin bukanlah apa-apa. Namun bagi Tri, itu adalah jarak tipis yang memisahkan dirinya dari masa depan yang lebih baik. Sebagai ibu dua anak yang bekerja sebagai buruh pabrik sejak 2018, jalan yang ia tempuh untuk meraih impian tidaklah mudah.
Baca Juga: Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari: Momentum Bersama Menuju Indonesia Bebas Sampah
Waktu belajarnya terbatas, ia hanya bisa mengerjakan latihan soal CPNS di internet pada malam hari setelah lelah bekerja dan mengurus keluarga.
Sejak 2017, ia telah berulang kali mengikuti seleksi CPNS. Tahun demi tahun, ia berusaha, hanya untuk kembali kecewa. Kadang kalah di perankingan, kadang gagal di tahapan lain. Tahun 2024 menjadi kesempatan terbesarnya setelah pemerintah memperpanjang batas usia maksimal pendaftar CPNS menjadi 35 tahun.
Ia pun mendaftar sebagai penjaga tahanan di Kemenkumham. Dengan kerja keras, ia meraih skor tertinggi dalam SKD yang digelar di Semarang pada 24 Oktober 2024. Namun, takdir berkata lain.
Mimpi yang Belum Usai
Meski hatinya berat menerima kenyataan, Tri memilih untuk tetap tegar. “Gelo (kecewa) pastine, kurang 0,5 sentimeter aja lho. Tapi gak apa-apa, memang belum rejekine,” katanya, mencoba menguatkan diri.
Ia tidak ingin menyerah. Jika ada kesempatan lain, ia bertekad untuk mencoba lagi. “Kalau ada bukaan lagi (formasi) yang sesuai, mau daftar lagi,” ujarnya penuh optimisme.
Tri adalah gambaran nyata dari banyak orang yang berjuang di tengah keterbatasan. Ia tidak menyerah meskipun aturan terkadang terasa tak berpihak. Baginya, gagal bukan akhir dari segalanya. Selama masih ada harapan, ia akan terus berusaha.
Di rumahnya di Desa Penggung, Kecamatan/Kabupaten Boyolali, ia tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Pagi hingga sore bekerja di pabrik, malam hari menemani anak-anaknya belajar. Sang suami, yang juga buruh pabrik di Salatiga, menjadi tempatnya berbagi kisah dan menyusun rencana untuk masa depan.
Tri Cahyaningsih mungkin tidak lolos seleksi kali ini. Tapi semangatnya tak akan padam. Setengah sentimeter bukanlah akhir dari segalanya. Mimpinya masih menyala, menunggu kesempatan berikutnya untuk kembali diperjuangkan. []