MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta Seri 2 2025–2026 Hadirkan 1.548 Peserta, Jadi Barometer Pembinaan Sepak Bola Putri di Indonesia

  • Whatsapp
sepak bola usia dini putri
Turnamen MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta 2025–2026 diikuti 1.548 peserta dan jadi barometer pembinaan sepak bola putri usia dini di Indonesia. (Ist)

BacaJogja  – Gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 2 2025–2026 kembali mencuri perhatian publik olahraga setelah sukses menghadirkan 1.548 peserta dari 88 SD dan MI pada 27 Januari – 1 Februari 2026 di Stadion Tridadi dan Lapangan Bola Sidomoyo, Sleman.

Ajang yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife ini menjadi salah satu kompetisi sepak bola putri usia dini terbesar dan paling konsisten di Indonesia, sekaligus menjadi tolak ukur bagi perkembangan sepak bola putri di lingkup sekolah dasar.

Read More

Tahun ini, MLSC Yogyakarta kembali menunjukkan bagaimana kompetisi berjenjang mampu memperkuat fondasi pembinaan atlet putri. Dengan format yang tersusun rapi dari babak kualifikasi hingga fase gugur, turnamen ini membantu sekolah menyiapkan pemain dengan pendekatan yang lebih serius.

Guru olahraga yang mendampingi pun mendapatkan pengalaman baru terkait perencanaan pertandingan, manajemen tim, hingga evaluasi teknik dan mental pemain. Hal ini menciptakan ekosistem pembinaan yang lebih matang dan terstruktur di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta, Tri Wulandari, menilai peningkatan kualitas kompetisi terlihat jelas di seri tahun ini.

“Banyak pertandingan berakhir skor tipis, bahkan sampai adu penalti. Ini menunjukkan kualitas tim yang semakin merata. Strategi pelatih dan mental pemain menjadi faktor penentu,” ujarnya.

Dari seri Yogyakarta, panitia akan menyeleksi 25 pemain terbaik, sebelum kemudian dipilih 16 pemain untuk tampil di MilkLife Soccer Challenge All Star 2025–2026 di Kudus pada Juni mendatang. Proses seleksi ini melibatkan pengawasan ketat tim pelatih dan pemandu bakat untuk memastikan pemain dengan potensi teknik, visi bermain, dan mentalitas terbaik dapat melangkah ke level lebih tinggi.

Komitmen Pembinaan Melalui Regulasi Baru

Regulasi baru seperti perubahan ukuran lapangan, titik penalti 6 meter, kick off dua sentuhan, hingga penggunaan lapangan KU 12 untuk semifinal dan final KU 10 dirancang agar pemain memiliki pengalaman kompetisi yang mendekati standar profesional, namun tetap aman untuk usia mereka. Penyesuaian ini bertujuan merangsang perkembangan kemampuan dasar, kecepatan mengambil keputusan, serta pemahaman taktik dalam situasi permainan sesungguhnya.

Hal ini juga mendorong sekolah dan pelatih untuk lebih aktif mempersiapkan latihan yang sesuai dengan kebutuhan kompetisi modern. Banyak pelatih mengakui bahwa perubahan regulasi memberikan tantangan baru, namun sekaligus meningkatkan kualitas latihan dan strategi yang mereka terapkan di sekolah masing-masing.

Festival SenengSoccer & Skill Challenge Perkuat Pondasi Teknik Pemain

Selain pertandingan 7 vs 7, MLSC juga menghadirkan dua program penting:

  • Festival SenengSoccer (KU 8) – diikuti 81 peserta untuk menumbuhkan kecintaan pada sepak bola sejak usia 6–8 tahun.

  • Skill Challenge – lima uji ketangkasan mencakup dribbling, passing control, penalty shoot, shoot on target, dan duel 1 vs 1.

Dua program ini membuktikan bahwa MLSC bukan sekadar turnamen, tetapi sarana pembinaan berjenjang dengan pendekatan menyeluruh terhadap teknik, motorik, dan psikologi anak. Beberapa sekolah bahkan mengaku menjadikan agenda MLSC sebagai target tahunan untuk memotivasi siswi agar terus berlatih dan berkembang.

Dengan penyelenggaraan di 12 kota, MLSC menjadi pilar pembinaan sepak bola putri yang berkelanjutan. Informasi lengkap turnamen dapat dilihat di www.milklifesoccer.com serta media sosial @milklifesoccer. []

Related posts