BacaJogja – Langit di atas Tahura Bunder Gunungkidul seakan ikut menunduk pada Senin, 23 Juni 2025 sore itu. Jalanan yang biasanya hanya menjadi lintasan kendaraan berubah menjadi saksi bisu dari sebuah kehilangan besar.
Di tengah tikungan yang menanjak dan lengang, dua pengendara motor kehilangan nyawa—salah satunya adalah Andi Suryanto, seorang ayah dari dua anak kecil yang menanti kepulangannya di rumah, tanpa tahu bahwa senja itu adalah akhir dari segalanya.
Andi, warga Serut, Ponjong, Gunungkidul, dikenal sebagai sosok yang bersahaja. Ia bukan orang yang banyak bicara, tetapi selalu hadir bagi keluarga dan sahabat. Di balik kesederhanaannya, Andi menyimpan cinta yang tak putus untuk anak-anaknya, Izza dan Azzam, dua buah hati yang masih belajar menghafal ayat-ayat suci di TPA setiap sore.
Baca Juga: Korban Terseret Ombak di Pantai Watu Kodok Ditemukan Meninggal, Ini Kronologinya
Fitri, tetangga dekat almarhum, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan suasana rumah korban selepas kabar duka itu menyebar.
“Anaknya masih semaan mengaji di TPA Sabilul Huda Masjid Al Huda Kuwon. Setelah suami saya nelpon bahwa ayah mereka positif meninggal, saya langsung jemput mereka pulang. Di rumah sudah ramai pelayat, tapi ibunya belum ada. Beliau sedang keluar mengurus surat rujukan kontrol bapaknya,” ujar Fitri, suara parau menahan getir.
Betapa pahitnya sore itu. Di saat seorang ibu berjuang untuk orang tuanya yang sakit, takdir justru mengambil suami tercinta. Di saat anak-anak tengah khusyuk menghafal Al-Qur’an, Allah memanggil ayah mereka dalam kecelakaan yang tragis.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Mobil Isuzu Panther yang datang dari arah berlawanan melewati marka jalan dan menghantam dua sepeda motor, salah satunya dikendarai Andi. Tubuh Andi terpental, nyawanya tak terselamatkan. Semua terjadi hanya dalam hitungan detik, namun luka yang ditinggalkan akan bertahun-tahun menganga.
Baca Juga: Misteri Perahu “Barokah Mitabu” Patah Terdampar di Parangtritis, Tanpa Penumpang dan Tanda Korban
Wulandari, sahabat SMP Andi, mengaku masih terkejut. Ia mengingat sosok Andi sebagai pribadi hangat yang mudah membuat orang tertawa.
“Orangnya humoris, supel banget. Baik sama siapa aja. Saya masih nggak percaya. Semoga Allah memberi tempat terbaik untukmu, Ndik. Kamu ayah hebat,” tulisnya dalam pesan di medsos pribadinya.
Kini, Izza dan Azzam harus tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah yang biasa menjemput mereka dari TPA, memijat kaki mereka saat sakit, atau menyuapi ketika malas makan. Mereka masih terlalu kecil untuk memahami kata “pergi” yang berarti selamanya.
Di Sasanalaya Ponjong, Selasa siang, jenazah Andi disemayamkan. Tangis tak terbendung. Di sudut ruangan, dua anak kecil duduk diam di pangkuan kerabat—masih bingung, masih berharap ayahnya hanya tertidur dan akan bangun nanti malam.
Baca Juga: Keraton Yogyakarta Gelar Mubeng Beteng 1 Suro Malam Jumat 26 Juni 2025
Namun waktu terus berjalan. Tak ada yang bisa memutar balik kejadian di Hutan Bunder itu. Polisi menyatakan pengemudi mobil yang menyebabkan kecelakaan belum ditahan, dan masih dalam pengawasan.
Mungkin akan ada keadilan, mungkin akan ada proses hukum. Tapi bagi keluarga Andi, yang hilang bukan hanya nyawa—melainkan tumpuan hidup, cinta, dan pelindung utama bagi dua anak kecil yang kini menatap dunia tanpa bimbingan ayah.
Andi telah pulang. Tapi bukan ke rumah yang biasa ia singgahi setelah seharian bekerja, melainkan ke rumah abadi yang tak lagi bisa disentuh, hanya bisa dirindukan. Dan Hutan Bunder kini tak hanya menyimpan aroma kayu dan daun basah, tetapi juga menyimpan cerita tentang seorang ayah yang tak sempat mengucapkan selamat tinggal.
Semoga Izza dan Azzam tumbuh menjadi anak-anak kuat yang meneruskan kebaikan ayahnya. Dan semoga doa-doa malam mereka, meski terbata-bata, selalu sampai kepada sosok lelaki pertama yang mereka panggil “Abi.” []






