Campus League Gandeng UII, Bangun Ekosistem Olahraga Mahasiswa Berkelanjutan di Yogyakarta

  • Whatsapp
Uii league basket
Campus League dan UII resmi bekerja sama membangun ekosistem olahraga mahasiswa berkelanjutan di Yogyakarta, (Ist)

BacaJogja — Campus League bersama Universitas Islam Indonesia (UII) resmi menjalin kerja sama strategis untuk membangun ekosistem olahraga mahasiswa yang berkelanjutan. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada kompetisi olahraga kampus, tetapi juga pembinaan karakter, mentalitas, hingga kepedulian sosial mahasiswa.

CEO Campus League, Ryan Gozali, dan Rektor Universitas Islam Indonesia, Fathul Wahid, menegaskan bahwa olahraga kampus harus menjadi wadah permanen untuk mencetak generasi mahasiswa yang sportif, berintegritas, dan berdaya saing.

Read More

Kerja sama tersebut ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman di Yogyakarta sebagai langkah awal membangun sistem pembinaan olahraga kampus yang lebih terstruktur.

UII Disiapkan Punya Stadion Berstandar Campus League

Ryan Gozali menjelaskan bahwa tahap awal kerja sama berupa pembentukan payung kolaborasi agar UII dapat membentuk tim olahraga resmi untuk berlaga di Campus League. Namun ke depan, kerja sama ini ditargetkan lebih ambisius dengan pembangunan stadion berstandar Campus League.

Stadion tersebut dirancang sebagai fasilitas multi-cabang olahraga dengan fokus utama futsal, namun tetap dapat digunakan untuk cabang olahraga lain.

“Ke depan format kompetisi akan berubah menjadi home and away, sehingga kampus perlu memiliki home ground sendiri agar identitas tim dan atmosfer kompetisi semakin kuat,” ujar Ryan.

Menurutnya, perubahan format kompetisi menjadi kebutuhan penting agar olahraga kampus berkembang lebih profesional dan memiliki basis supporter yang kuat.

Kompetisi Diubah Jadi Home and Away

Campus League juga berencana menerapkan sistem round robin, di mana setiap tim akan saling bertemu minimal satu kali dalam fase grup. Target penerapan penuh sistem tersebut diproyeksikan dalam empat tahun mendatang.

Ryan mengakui tantangan terbesar adalah belum semua kampus memiliki gelanggang olahraga atau stadion sendiri. Karena itu, kampus yang belum memiliki fasilitas akan diarahkan menggunakan venue milik pemerintah daerah atau fasilitas lain dengan jarak maksimal lima kilometer dari kampus.

Hasil riset Campus League menunjukkan kedekatan venue dengan kampus sangat memengaruhi jumlah supporter yang hadir. “Semakin dekat venue dengan kampus, semakin tinggi antusiasme mahasiswa untuk mendukung tim mereka,” jelas Ryan.

Selama ini sistem kompetisi seri yang berlangsung 7–10 hari dinilai cukup melelahkan bagi pemain maupun supporter. Dengan format baru, pertandingan direncanakan berlangsung seminggu sekali agar mahasiswa memiliki waktu untuk pemulihan, latihan, evaluasi strategi, dan tetap fokus pada akademik.

Ryan menilai format mingguan juga akan membentuk budaya kampus yang lebih kuat karena pertandingan menjadi agenda rutin mahasiswa setiap pekan. “Mahasiswa tidak perlu bolos kuliah untuk mengikuti kompetisi panjang. Kampus spirit justru akan tumbuh lebih kuat,” katanya.

UII Dorong Lahirnya “Student Athlete Plus”

Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, menekankan bahwa olahraga kampus tidak boleh hanya berorientasi pada kemenangan dan prestasi semata. Menurutnya, olahraga juga harus menjadi ruang pembentukan empati, kejujuran, dan kepedulian sosial.

Ia memperkenalkan konsep “student athlete plus”, yakni mahasiswa atlet yang tidak hanya unggul di lapangan tetapi juga memiliki karakter sosial dan integritas tinggi. “Kita ingin melahirkan mahasiswa yang sportif, taat aturan, dan menjunjung tinggi kejujuran,” ujar Fathul.

Menurutnya, sportivitas menjadi nilai penting karena berbagai persoalan sosial dan politik di Indonesia sering kali muncul akibat hilangnya sikap sportif dalam kehidupan sehari-hari.

Fathul Wahid juga menyoroti pentingnya kanal pembinaan permanen bagi unit kegiatan mahasiswa di bidang olahraga. Ia berharap kerja sama ini bisa menjadi contoh bagi kampus lain untuk membangun sistem olahraga kampus yang lebih serius dan berkelanjutan.

Menurutnya, pembinaan yang konsisten akan melahirkan talenta olahraga terbaik, bukan sekadar prestasi sesaat. Ia mencontohkan bahwa capaian tertinggi kampus wilayah DIY dan Jawa Tengah di tingkat nasional sebelumnya baru sebatas semifinalis, sehingga diperlukan pembinaan jangka panjang agar prestasi lebih stabil.

Campus League Jogja Jadi Momentum Baru

Penyelenggaraan Campus League cabang bola basket regional Yogyakarta yang berlangsung sejak 30 April hingga awal Mei 2026 disebut menjadi momentum penting kebangkitan olahraga mahasiswa di kota pelajar tersebut.

Ryan mengungkapkan bahwa mulai tahun depan wilayah Yogyakarta akan dipisahkan dari Semarang dalam sistem regional kompetisi agar kampus-kampus di Jogja memiliki peluang lebih besar berkembang dan bersaing di tingkat nasional.

Meski tim-tim Jogja belum berhasil menjadi juara tahun ini, ia optimistis pembinaan yang lebih terstruktur akan meningkatkan kualitas tim di masa mendatang.

Prof. Fathul Wahid menegaskan bahwa sportivitas harus menjadi fondasi utama dalam olahraga kampus. Menurutnya, kemenangan tidak boleh membuat seseorang jumawa, sementara kekalahan juga tidak boleh membuat terpuruk.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga integritas olahraga agar praktik-praktik curang yang pernah mencoreng dunia olahraga Indonesia tidak terulang kembali. “Sportivitas bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat,” katanya.

Babak Baru Olahraga Mahasiswa Indonesia

Kerja sama antara Campus League dan UII dinilai menjadi simbol sinergi antara dunia akademik dan olahraga dalam membangun generasi muda Indonesia.

Campus League kini berkembang menjadi salah satu platform penting pembinaan olahraga mahasiswa, setelah sebelumnya sukses menggelar kompetisi futsal dan kini memperluas ke cabang bola basket.

Dengan dukungan kampus dan sistem kompetisi yang lebih modern, Yogyakarta diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan olahraga mahasiswa nasional.

Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya berprestasi di lapangan, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sosial dan akademik. []

Related posts