Diaspora DIY Berperan Penting, Sri Sultan Titipkan 5 Pilar Strategis untuk Kemajuan Jogja

  • Whatsapp
sri sultan
Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan 5 peran strategis diaspora DIY dalam membangun Jogja Istimewa secara inklusif dan lestari dari perantauan. (Pemda DIY)

BacaJogja – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa esensi dari seorang perantau sejati adalah tidak melupakan tanah kelahirannya. Sebaliknya, identitas hakiki dari diaspora DIY adalah mereka yang mampu menempa diri dan bertumbuh di perantauan, lalu membawa dampak nyata sekembalinya ke kampung halaman untuk memakmurkan tanah yang telah membesarkannya.

Pesan penuh makna tersebut disampaikan oleh Ngarsa Dalem saat memberikan sambutan dalam acara Silaturahmi Gubernur DIY dengan Diaspora DIY. Agenda tahunan yang sarat akan nuansa kekeluargaan ini digelar di Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Sabtu (06/06) malam.

Read More

Dalam pandangan Sri Sultan, catatan sejarah panjang telah membuktikan secara sahih bahwa pergerakan diaspora bukan sekadar perpindahan penduduk biasa, melainkan sebuah fenomena kekuatan kolektif yang masif. Kelompok perantau dinilai memiliki kapabilitas besar untuk memperkenalkan sekaligus menggaungkan nilai-nilai luhur dan identitas budaya daerah asal ke panggung global. Tidak hanya itu, mereka juga mampu mentransfer kontribusi nyata bagi daerah melalui sumbangsih gagasan, pengalaman, hingga jejaring strategis yang mereka miliki.

“Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari sejarah ini? Bahwa diaspora sejati, bukan mereka yang pergi lalu melupakan. Diaspora sejati, adalah mereka yang pergi untuk tumbuh, lalu kembali, dalam bentuk apa pun, untuk memberikan buah dari pertumbuhannya, kepada tanah yang pernah membesarkan mereka,” tegas Sri Sultan Hamengku Buwono X.

5 Peran Strategis Diaspora DIY untuk Kemajuan Daerah

Guna mengonversi potensi besar tersebut menjadi aksi konkret, Sri Sultan menaruh harapan besar agar segenap diaspora DIY dapat mengimplementasikan kontribusi mereka melalui lima peran utama. Kelima pilar kontribusi ini dirancang agar arah pembangunan daerah dapat berjalan beriringan dengan nilai kebudayaan lokal:

  1. Jembatan Gagasan: Menjadi katalisator yang membawa perspektif inovatif serta skala nasional untuk memperkaya, mempercepat, dan mempertajam akselerasi pembangunan di wilayah DIY.

  2. Penggerak Ekonomi: Berperan aktif dalam menanamkan modal finansial maupun menyalurkan kepercayaan investasi pada ekosistem usaha dan UMKM lokal di Yogyakarta.

  3. Connector (Penghubung): Membuka akses jaringan dan pintu-pintu strategis di luar daerah yang selama ini belum terjangkau oleh simpul-simpul pengambil kebijakan di Yogyakarta.

  4. Pengajar dan Mentor: Berbagi ilmu, pengalaman, dan keahlian untuk generasi muda. Sri Sultan menegaskan bahwa esensi dari kata “mulih” (pulang) tidak selalu harus bermakna kepulangan secara fisik, melainkan transfer pengetahuan yang berkelanjutan.

  5. Tlatah Yogyakarta yang Bergerak: Menjadi representasi hidup yang senantiasa merawat bahasa Jawa, rasa, kepekaan sosial, serta nilai luhur yang ditanamkan orang tua. Langkah ini krusial agar ruh keistimewaan Yogyakarta tetap hidup di sanubari setiap orang yang pernah menginjakkan kaki di tanah Mataram.

Melalui sinergi dari kelima peran strategis tersebut, para perantau diharapkan mampu menghadirkan kontribusi yang nyata dan terukur bagi pembangunan daerah. Di saat yang sama, mereka juga memikul misi kebudayaan untuk terus menghidupkan nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta di mana pun kaki berpijak.

Pertemuan silaturahmi ini pun diproyeksikan menjadi ruang terbuka untuk menyambung rasa dan merajut jalinan komunikasi yang intensif antara Pemerintah Daerah DIY dengan warganya di perantauan. Dari dialog ini, diharapkan lahir gagasan-gagasan segar yang inovatif demi mewujudkan masa depan DIY yang inklusif, adaptif terhadap kemajuan zaman, namun tetap lestari secara budaya.

“Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhai seluruh niat dan ikhtiar kita dalam membangun Daerah Istimewa Yogyakarta. Menuju terwujudnya ‘Jogja Istimewa’, demi sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemuliaan rakyat,” pungkas Sri Sultan di akhir sambutannya.

Komitmen Melestarikan Budaya di Tengah Arus Globalisasi

Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Komunikasi Diaspora DIY, Suryo Purnomo, memaparkan komitmen kolektif dari para perantau. Hingga saat ini, pihaknya bersama berbagai elemen masyarakat secara konsisten terus menggelar beragam ruang kreasi untuk memupuk serta menanamkan rasa cinta generasi muda terhadap kebudayaan Yogyakarta.

Suryo menggarisbawahi bahwa langkah preventif dan edukatif ini mendesak untuk terus dilakukan secara berkala. Hal ini mengingat derasnya arus globalisasi dan digitalisasi yang berpotensi menggerus rasa bangga serta kepemilikan generasi muda terhadap seni dan budaya asli daerah.

Rangkaian kerja nyata yang telah sukses dilaksanakan oleh Forum Komunikasi Diaspora DIY mencakup berbagai pagelaran seni budaya yang atraktif. Mulai dari pementasan ketoprak Mataram, wayang kulit, seni sandiwara angkringan Jogja, konser musik campursari, kirab budaya, diskusi kebudayaan, pentas karawitan, hingga pameran dan bazar UMKM yang menjajakan ragam kuliner serta kerajinan tangan otentik khas Yogyakarta.

Tidak main-main, dedikasi tinggi diaspora DIY dalam melestarikan warisan leluhur ini juga berhasil menorehkan tinta emas dan mencatatkan sejumlah capaian prestisius di kancah nasional. Di antaranya adalah pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk pagelaran campursari non-stop selama 6 hari 24 jam penuh, serta penyelenggaraan pagelaran wayang kulit selama 15 hari 15 malam tanpa henti yang dipusatkan di Anjungan DIY TMII.

“Semoga kegiatan ini bermanfaat dan bisa membuat guyub baru bagi warga diaspora DIY, yang sekaligus melestarikan seni budaya Jogja sebagai kebanggaan dan identitas tanah leluhur kita,” harap Surya. []

Related posts