BacaJogja — Penguatan Ekosistem Ekonomi Produktif Lumbung Mataraman terus menunjukkan hasil nyata dalam memperkuat ekonomi kalurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui kolaborasi lintas sektor, program ini sukses menyalurkan pembiayaan produktif sebesar Rp9,17 miliar kepada 120 pelaku usaha di empat kalurahan percontohan sepanjang tahun 2026.
Sinergi ini melibatkan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) DIY, Bank BPD DIY, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, serta Bank Indonesia (BI) DIY.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa Penguatan Ekosistem Ekonomi Produktif Lumbung Mataraman merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas kelompok masyarakat dalam mengelola usaha, meningkatkan daya saing produk, serta memperluas akses terhadap sumber pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan.
“Lumbung Mataraman tidak hanya dipahami sebagai tempat penyedia pangan, tetapi merupakan sistem sosial-produktif yang berakar pada falsafah nandur apa sing dipangan, mangan apa sing ditandur—yakni menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam,” ujar Ni Made saat meninjau Lumbung Mataraman Bendung, Kapanewon Semin, Gunungkidul.
Lumbung Pangan Hidup dan Kemandirian Ekonomi
Ni Made menjelaskan bahwa Lumbung Mataraman sejatinya adalah lumbung pangan hidup. Di dalamnya terdapat ikhtiar nyata untuk mendekatkan kembali sumber pangan langsung kepada keluarga.
Falsafah tradisional tersebut mengajarkan nilai-nilai penting:
-
Kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pokok harian.
-
Kecukupan pangan berbasis potensi lokal.
-
Kedekatan dengan alam dan tanggung jawab merawat sumber kehidupan.
Penerapan prinsip ini diwujudkan melalui penguatan kemandirian pangan keluarga, diversifikasi konsumsi berbasis pangan lokal, pelestarian sumber daya genetik pangan, pengembangan kebun bibit, hingga pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan.
Ekosistem Terintegrasi Pangan hingga Budaya
Istilah “lumbung” dalam program strategis Pemda DIY ini tidak lagi sebatas bangunan fisik penyimpan hasil panen. Lebih dari itu, Lumbung Mataraman dipahami sebagai sebuah ekosistem holistik yang menghubungkan empat aspek utama:
-
Aspek Pangan: Menjamin ketersediaan pangan bergizi dari pekarangan sendiri.
-
Aspek Ekonomi: Membuka akses pembiayaan produktif dan permodalan sehat bagi warga.
-
Aspek Sosial: Memperkuat gotong royong dan kapasitas kelompok usaha masyarakat.
-
Aspek Budaya: Melestarikan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem lingkungan.
Melalui integrasi pembiayaan dan pendampingan ini, diharapkan keberadaan program Lumbung Mataraman DIY dapat terus direplikasi ke berbagai kalurahan lain untuk menciptakan kemandirian ekonomi daerah yang kokoh dari tingkat tapak. []






