Sektor Makan-Minum Jogja Tumbuh 10,56%: ESB Hadir di JIFHEX 2026 Bawa Solusi Bisnis Kuliner Terintegrasi

  • Whatsapp
Bisnis kuliner jogja
Sektor makan-minum DIY tumbuh pesat 10,56%. ESB hadir di JIFHEX 2026 JEC bawakan sistem operasional bisnis kuliner terintegrasi untuk atasi tantangan F&B. (Ist)

BacaJogja — Industri Food & Beverage (F&B) dan hospitality di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus menunjukkan taringnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, perekonomian wilayah ini mampu tumbuh 5,75% secara tahunan (year-on-year) pada triwulan II-2026. Menariknya, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 10,56%.

Kenaikan impresif ini mencerminkan betapa kuatnya aktivitas bisnis yang ditopang oleh geliat pariwisata, okupansi perhotelan, serta tingginya konsumsi masyarakat terhadap produk kuliner di Jogja dan sekitarnya.

Read More

Namun, di balik pertumbuhan yang menggiurkan tersebut, para pelaku usaha kuliner dihadapkan pada kompleksitas operasional yang kian rumit. Mulai dari mengelola pesanan multi-kanal, lonjakan biaya operasional, tingginya risiko pemborosan bahan baku (food waste), hingga persaingan promosi yang makin ketat.

Menjawab tantangan tersebut, PT Esensi Solusi Buana (ESB), perusahaan teknologi penyedia sistem operasional terintegrasi khusus F&B, resmi berpartisipasi dalam ajang Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) 2026 yang dihelat pada 28–30 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC).

Pertumbuhan Industri Kuliner Diiringi Kompleksitas Operasional

Geliat bisnis kuliner saat ini tidak lagi sekadar berfokus pada seberapa ramai outlet dikunjungi pelanggan, melainkan bagaimana efisiensi di balik layar (back-office) dikelola secara presisi.

CEO & Co-Founder ESB, Gunawan Woen, menyoroti dinamika menarik yang terjadi di pasar Yogyakarta. Menurutnya, pertumbuhan pasar harus diimbangi dengan kontrol operasional berbasis data yang akurat.

“Yogyakarta adalah contoh menarik. Aktivitas bisnis kuliner dan hospitality terus bergerak, tetapi pertumbuhan juga membuat kompleksitas operasional semakin besar. Pengusaha tidak cukup hanya mengejar penjualan. Mereka perlu mengetahui outlet mana yang sehat, menu mana yang menguntungkan, bagaimana kondisi stok, dan apakah strategi promosi benar-benar memberikan dampak terhadap bisnis,” ujar Gunawan Woen.

3 Tantangan Utama Bisnis Kuliner Masa Kini

Dalam peta persaingan F&B saat ini, terdapat tiga faktor krusial yang wajib diantisipasi oleh para pemilik bisnis:

1. Ledakan Pesanan Online Multi-Kanal

Kanal pemesanan makanan digital terus mendominasi pasar Indonesia. Data estimasi dari Momentum Works menunjukkan bahwa nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) layanan pesan-antar makanan via GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood mencapai US$6,4 miliar pada 2025 (tumbuh 18% dari tahun sebelumnya).

  • GrabFood: US$2,94 miliar

  • GoFood: US$1,98 miliar

  • ShopeeFood: US$1,47 miliar

Tanpa sistem yang terintegrasi, restoran sering kali kewalahan menyelaraskan pesanan masuk dari berbagai aplikasi dengan sistem kasir di toko.

2. Konsumen Sensitif Harga dan Promosi

Hasil survei Populix terhadap 3.138 responden dari kalangan Gen Z dan milenial mengungkapkan bahwa faktor harga dan promo diskon merupakan pertimbangan utama dalam memilih tempat makan. Di tengah persaingan yang makin menjamur, pebisnis kuliner tidak bisa asal menebar diskon tanpa perhitungan yang terukur agar marjin keuntungan tidak tergerus.

3. Ancaman Kerugian Akibat Food Loss & Waste

Bappenas memperkirakan potensi kerugian ekonomi akibat food loss and waste di Indonesia mencapai Rp213 hingga Rp551 triliun per tahun (setara 4–5% dari PDB nasional). Bagi operasional restoran, ketidakmampuan mengontrol stok bahan baku dan Harga Pokok Penjualan (HPP) secara tepat berisiko memicu pemborosan finansial yang sangat besar.

Ekosistem ESB: Solusi End-to-End dari Front-End hingga Back-Office

Untuk mengatasi berbagai benang kusut operasional tersebut, ESB menghadirkan ekosistem teknologi F&B yang saling terhubung (seamless) di JIFHEX 2026. Solusi yang ditawarkan mencakup:

  • ESB POS (Point of Sale): Aplikasi kasir modern untuk mengelola transaksi, pengaturan menu, skema promosi, hingga integrasi otomatis dengan berbagai kanal pemesanan online.

  • ESB Order: Layanan pemesanan digital (self-order) yang mempermudah pelanggan dalam memesan makanan langsung dari meja atau secara online.

  • ESB Core (ERP F&B): Sistem Enterprise Resource Planning khusus bisnis kuliner untuk mengelola pengadaan bahan (procurement), manajemen inventaris/stok, proses produksi, perhitungan HPP, hingga laporan keuangan otomatis.

“Tujuan kami bukan sekadar menyediakan aplikasi kasir restoran atau software untuk mencatat transaksi. Tantangan bisnis kuliner hari ini saling terhubung, sehingga sistemnya juga perlu saling terhubung. Ketika data penjualan, pesanan, stok, produksi, dan keuangan masih berjalan sendiri-sendiri, pemilik bisnis akan semakin sulit melihat kondisi operasional secara menyeluruh,” tegas Gunawan.

Komitmen ESB Mendorong Digitalisasi Kuliner di Daerah

Prestasi ESB di industri teknologi F&B telah diakui secara internasional, termasuk masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025 pada kategori Enterprise Technology & Robotics. Hingga kini, ESB telah melayani lebih dari 30.000 merchant aktif dengan akumulasi nilai transaksi memproses lebih dari Rp65 triliun.

Deretan brand kuliner ternama Indonesia telah memercayakan operasionalnya pada ekosistem ESB, seperti BOGA Group, Starbucks, Remboelan, Richeese Factory, Marugame Udon, Wingstop, Waroeng Steak & Shake, hingga brand lokal populer Jogja seperti Pawon Mbah Gito, Tjemara Noodle Bar, dan Kopi Puncak Rindu.

Melalui keikutsertaannya di JIFHEX 2026, ESB membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para pelaku usaha kuliner—baik skala UMKM berkembang maupun jaringan multi-outlet—untuk berkonsultasi langsung dan menyaksikan simulasi teknologi secara interaktif di booth ESB JEC.

“Partisipasi kami di JIFHEX merupakan bagian dari komitmen ESB untuk mendukung digitalisasi bisnis kuliner di berbagai daerah. Kami ingin pelaku usaha dapat memiliki akses terhadap sistem yang membantu operasional mereka menjadi lebih terintegrasi, terukur, dan mudah dikendalikan,” tutup Gunawan. []

Related posts