BacaJogja – Dunia kustom kultur Indonesia kembali melahirkan karya unik yang memadukan otomotif modern dengan kearifan lokal. Berawal dari tugas akhir akademik, Arafat Sakti, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sukses menyita perhatian lewat karya motor custom bertajuk “Chopper Ratu Gedruk” dalam ajang bergengsi Indonesia Custom Show 2026.
Motor Chopper ini bukan sekadar kendaraan hasil modifikasi biasa. Arafat meleburkan seni tari tradisi Gedruk—salah satu karakter kuat dalam kesenian Jathilan khas Yogyakarta—ke dalam wujud besi dan mesin. Energi visual Gedruk yang garang dan sarat mistik diterjemahkan secara presisi ke dalam estetika custom culture.
Prosed Bangun Mandiri dari Rangka Hingga Detail Seni
Dalam proses penciptaannya, Arafat terjun langsung menggarap teknis dan artistik motor ini secara mandiri. Ia tak hanya fokus pada konsep visual, tetapi juga merancang serta membangun rangka motor hingga merakit berbagai komponen custom lainnya.
Eksplorasi artistik utama karya ini terletak pada dua aspek menonjol:
-
Sentuhan Airbrush Mistik: Balutan teknik airbrush khusus yang menyajikan nuansa visual magis ala kesenian Gedruk.
-
Replika Atribut Jathilan: Pengaplikasian ornamen khas kesenian rakyat Jogja yang melekat harmonis pada bodi motor, mempertegas identitas “Ratu Gedruk”.
Dari Tugas Akhir Skripsi Menuju Panggung Nasional
Bagi Arafat, Chopper Ratu Gedruk adalah kanvas berjalan untuk membuktikan bahwa pendidikan seni akademik dapat bertransformasi menjadi karya industri kreatif yang bernilai tinggi. Karya yang semula dirancang sebagai syarat skripsi ini terbukti mampu bersaing dan lolos seleksi ketat hingga tampil di panggung Indonesia Custom Show 2026 berskala nasional.
“Motor ini bukan sekadar kendaraan modifikasi, melainkan media penciptaan seni sekaligus ruang eksplorasi bagaimana identitas budaya lokal Yogyakarta diterjemahkan ke bahasa visual custom culture yang lebih luas,” ungkap Arafat.
Kehadiran Chopper Ratu Gedruk menjadi bukti segar bahwa kolaborasi antara tradisi lokal, akademisi seni, dan kustom kultur mampu melahirkan karya baru yang berkarakter kuat tanpa kehilangan akar budayanya. []






