BacaJogja — Rangkaian tur pemutaran Film ROOTS – One Hundred Years of Walter Spies in Bali resmi berakhir dengan sukses. Sepanjang bulan Mei 2026, film ini telah menyambangi empat kota besar di Indonesia secara serentak, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Magelang, dan berakhir di Ubud, Bali, pada Minggu (27/5).
Pemutaran pamungkas yang berlangsung di Bale Banjar Sokasi Café, Ubud, mendapat respons yang luar biasa. Pemutaran tersebut dipadati oleh para penikmat seni, pengunjung kafe, hingga kalangan ekspatriat yang menetap di Bali.
Napak Tilas Sejarah Walter Spies di Pulau Jawa dan Bali
Yudha Bantono, sosok yang dipercaya dan menerima mandat untuk memutar film karya sutradara Michael Schindhelm ini, menyatakan kepuasannya atas antusiasme penonton. Sebelum menggelar tur di Indonesia, Film ROOTS Walter Spies ini telah lebih dulu sukses diputar di Perth, Australia, pada April lalu.
“Tahun lalu film ini sudah diputar keliling Bali. Tahun ini, setelah dari Perth, kami melanjutkan pemutaran di Jakarta, Yogyakarta, Magelang, dan kembali lagi ke Ubud,” ujar Yudha.
Menariknya, pemilihan kota dalam tur ini bukan tanpa alasan. Film ROOTS mencoba merajut kembali memori kolektif tentang kedatangan Walter Spies ke Indonesia sebelum akhirnya ia menetap di Bali. Seniman legendaris berkebangsaan Jerman kelahiran Moskow tersebut tercatat pertama kali menginjakkan kaki di Batavia (Jakarta), lalu bergerak ke Bandung dan Yogyakarta pada tahun 1923.
“Ada pertalian sejarah yang sangat kuat. Pemutaran di Pulau Jawa ini menjadi momen untuk mengingat kembali sekaligus merangkai cerita perjalanan Walter Spies sebelum ia menjadi bagian penting dari modernisasi seni di Bali,” tambah Yudha.
Ruang Diskusi Kritis di Yogyakarta dan Magelang
Di Yogyakarta, rangkaian pemutaran mengambil tempat di ruang-ruang kreatif yang dekat dengan ekosistem seni, seperti Buku Seni Rupa ISI Yogyakarta dan Yamie Bang Doel. Sementara di Magelang, film ini diputar di dua institusi seni bergengsi, yaitu Museum OHD dan Museum H. Widayat.
Di dua kota ini, pemutaran film memicu diskusi yang mendalam. Banyak audiens mempertanyakan bagaimana posisi dan peran seniman generasi pasca-Walter Spies dalam merespons perkembangan Bali modern saat ini.
Daftar Lokasi Tur Film ROOTS (Mei 2026):
-
Jakarta: Berbagai titik komunitas seni.
-
Yogyakarta: Buku Seni Rupa ISI Yogyakarta & Yamie Bang Doel.
-
Magelang: Museum OHD & Museum H. Widayat.
-
Bali: Bale Banjar Sokasi Café, Ubud.
Merespons kegelisahan audiens, Made Bayak, seorang seniman Bali yang terlibat langsung dalam pembuatan film sekaligus pameran ROOTS di Basel (Swiss) dan ARMA Museum (Ubud), turut hadir memberikan pandangannya. Bayak memberikan contoh nyata bagaimana seni hari ini harus berani bersuara, salah satunya melalui happening art yang ia lakukan dalam aksi protes Bali Tolak Reklamasi.
Lebih dari Sekadar Dokumenter: Refleksi 100 Tahun Pariwisata Bali
Film ROOTS tampil apik dengan menggabungkan elemen dokumenter dan fiksi. Karya Michael Schindhelm ini berhasil menggali peran Walter Spies, baik sebagai katalisator kreatif yang melahirkan estetika visual baru (seperti pelestarian Tari Kecak), maupun sebagai figur yang kontroversial.
Melalui sajian arsip lama, rekonstruksi adegan, serta wawancara mendalam dengan akademisi seni, budayawan, seniman, hingga aktivis lingkungan, film ini membuka diskursus penting mengenai:
-
Dinamika kuasa budaya (cultural power dynamics).
-
Dampak kolonialisme Barat di industri seni lokal.
-
Refleksi kritis atas dampak pariwisata massal di Bali saat ini.
Melihat tingginya animo masyarakat, Yudha Bantono membocorkan bahwa perjalanan film ini tidak akan berhenti di sini. Pihaknya kini tengah mempersiapkan jadwal tambahan karena banyaknya permintaan tempat baru.
“Antusiasme publik seni dan budaya sangat tinggi. Di samping rencana yang sudah ada, kami juga mendapat banyak permintaan venue baru untuk pemutaran kembali di Jakarta dan Bandung dalam waktu dekat,” ungkap Yudha.
Melalui penutupan tur ini, Yudha berharap Film ROOTS Walter Spies tidak sekadar menjadi tontonan visual yang estetis, melainkan sebuah pemantik diskusi yang berkelanjutan.
“Kami berharap pemutaran di berbagai kota ini dapat menjadi peristiwa sekaligus medan percakapan kritis. Ini adalah tentang bagaimana sejarah seni dibaca ulang, diperdebatkan, dan digaungkan kembali agar kita lebih sensitif terhadap persoalan sosial-ekologis yang terjadi, baik di Bali maupun di daerah-daerah lain,” pungkasnya. []






