Menantang Adrenalin di Jantung Kota: Menengok Rencana Wisata Arung Jeram Sungai Code Jogja

  • Whatsapp
arung jeram code
Pemkot Yogyakarta siap sulap Sungai Code jadi destinasi wisata arung jeram perkotaan. (Pemkot Jogja)

BacaJogja –  Jumat pagi (22/5/2026) itu, riak air di kawasan belakang Hotel Tentrem, Gondokusuman, tampak lebih riuh dari biasanya. Bukan karena luapan banjir, melainkan karena kayuhan dayung dari rombongan yang tak biasa. Di atas perahu karet, mengenakan pelampung dan helm keselamatan, tampak Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memimpin langsung aksi susur Sungai Code.

Siapa sangka, sungai yang membelah padatnya pemukiman Kota Gudeg ini menyimpan potensi jeram yang memacu adrenalin? Langkah taktis ini diambil Pemkot Yogyakarta bukan sekadar untuk olahraga, melainkan sebuah misi besar: memetakan normalisasi sekaligus meretas jalan bagi lahirnya destinasi wisata arung jeram Sungai Code.

Read More

Merasakan Sensasi Jeram Perkotaan dari Tentrem ke Kewek

Menyusuri jalur air dari kawasan belakang Hotel Tentrem hingga mendarat di dekat Jembatan Kewek memberikan perspektif baru bagi orang nomor satu di Kota Jogja tersebut. Menurut Hasto, pengalaman langsung di atas air membuka matanya terhadap potensi tersembunyi Code yang selama ini luput dari pandangan mata dari atas jembatan.

“Informasi yang sebelumnya kita tidak tahu. Jadi setelah kita susur sungai, kemudian juga seperti arung jeram juga karena ternyata ada riam-riamnya yang cukup menarik dan menantang ya. Dari belakangnya Hotel Tentrem sampai di dekat Malioboro, ini di Kewek,” ujar Hasto dengan antusias.

Sensasi berbeda ini juga diamini oleh Komandan Kodim (Dandim) 0734/Kota Yogyakarta, Kolonel Infanteri Arif Setiyono. Ikut basah-basahan di dalam perahu, ia merasakan perpaduan kontras yang unik antara ketenangan arus kota dan kejutan jeram tersembunyi.

“Tadi suasana yang saya rasakan mulai dari start arusnya tenang, kemudian ada arus yang menguji adrenalin, ada juga beberapa batu-batuan tapi itu dalam koridor masih aman,” ungkap Kolonel Arif.

Tantangan di Balik Riak Air: Dari Sedimen hingga Kandang Ayam

Namun, di balik serunya riam sungai, perjalanan ini juga menjadi ajang “belanja masalah”. Berbagai pekerjaan rumah (PR) lingkungan terpampang nyata di sepanjang bantaran. Hasto mencatat dengan jeli titik-titik yang masih mengotori estetika dan fungsi ekologi sungai.

Mulai dari tumpukan sampah domestik, keberadaan kandang ayam warga, bangunan liar yang nekat memakan badan sungai, hingga problem klasik perkotaan: pendangkalan akibat sedimentasi parah.

Untuk menyulap Code menjadi magnet wisata baru, pembenahan fisik menjadi harga mati. Pemkot Yogyakarta bergerak cepat dengan menyusun linimasa taktis:

  • Pengerahan Alat Berat: Dalam satu hingga dua pekan ke depan, alat berat akan diterjunkan langsung ke sungai.

  • Normalisasi Aliran: Fokus utama adalah mengeruk sedimentasi lumpur dan menggeser batu-batu besar yang menghambat jalur aliran air.

  • Sterilisasi Bantaran: Menertibkan bangunan di badan sungai serta membersihkan kandang-kandang hewan peliharaan yang mengganggu sanitasi.

  • Edukasi Warga: Menggencarkan sosialisasi door-to-door agar masyarakat menyetop kebiasaan membuang sampah ke aliran sungai.

“Nanti batu-batu besar kita pinggirkan, kandang ayam kita bersihkan, kemudian kita sosialisasi ke warga agar warga sadar untuk tidak membuang sampah ke sungai,” tegas Wali Kota.

Menggagas Destinasi ‘Beginner-Friendly’ di Tengah Kota

Rencana Pemkot ini mendapat angin segar dan dukungan penuh dari Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kota Yogyakarta. Ketua FAJI Kota Jogja, Abdul Munir Roy Alfatoni, menilai bahwa keterlibatan langsung jajaran Forkopimda adalah momentum emas untuk menyelamatkan sekaligus mengoptimalkan potensi Code.

Menurut Roy, karakteristik Sungai Code sebenarnya sangat bersahabat untuk dijadikan spot wisata arung jeram Sungai Code bagi segmen pasar tertentu.

“Kalau untuk beginner, untuk teman-teman pemula itu sangat-sangat menarik, sangat cocok. Jadi kalau ada yang mau ikut arung jeram, mulailah dari Kali Code,” kelakar Roy optimis.

Tentu saja, mimpi besar ini tidak bisa dikerjakan sendirian oleh Pemkot. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) hingga Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) menjadi kunci utama agar regulasi dan keamanan tetap terjaga.

Integrasi Wisata Minat Khusus dan Edukasi Lingkungan

Jika proyek ini berjalan mulus, kawasan Malioboro dan Jembatan Kewek tidak hanya akan dikenal dengan romansa pedestrian dan angkringannya. Wisatawan kelak bisa menikmati alternatif sport tourism dan wisata minat khusus tanpa perlu berkendara jauh ke wilayah hulu atau pedesaan.

Konsep arung jeram perkotaan (urban rafting) ini diproyeksikan menjadi paket lengkap. Selain memacu ekonomi lokal melalui sektor pariwisata, program ini menjadi sarana edukasi lingkungan yang hidup. Seperti halnya napas program Jogja Cling, sungai yang bersih akan mendatangkan rezeki, dan rezeki itulah yang nantinya akan membuat warga secara swadaya menjaga kebersihan sungai mereka.

Masa depan Sungai Code kini sedang ditulis ulang—bukan lagi sebagai halaman belakang yang kumuh, melainkan sebagai beranda depan Jogja yang berseri dan menantang untuk diarungi. []

Related posts