Kala Warga Perum Azzahra Garden Bantul Belajar ‘Berdamai’ dan Berbagi Ruang dengan Ular

  • Whatsapp
edukasi ular
Warga Perum Azzahra Garden Bantul gandeng Sioux Indonesia untuk edukasi cara menghadapi ular di rumah dengan aman. (Ist)
BacaJogja –  Keriuhan yang tak biasa pecah di area Perum Azzahra Garden, Pandes II, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul. Bukan karena ada pasar malam atau perayaan hari besar, melainkan karena kehadiran beberapa ekor reptil melata yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi warga: ular.

Namun, alih-alih berlarian panik atau mengambil pemukul, warga dari berbagai usia—mulai dari anak-anak hingga orang tua—justru mendekat. Hari itu, mereka sedang belajar sebuah seni penting di musim pancaroba: seni hidup berdampingan secara aman dengan sang reptil.

Read More

Ketika Habitat Terusik, Ular Masuk Permukiman

Seringnya kasus ular masuk permukiman dalam beberapa pekan terakhir bukan tanpa alasan. Secara geografis, Perum Azzahra Garden berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan area persawahan, dengan sebuah sungai yang mengalir di ujung kawasan.

Bagi ular, wilayah ini adalah rumah asli mereka.

“Perumahan Az-Zahra ini kan bekas persawahan, terus di ujung ada sungai, nah itu kan habitatnya. Otomatis kita itu kan sebagai manusia mengambil alih habitat mereka, dan mereka tidak otomatis pergi, tapi tetap hidup berdampingan dengan kita,” ujar Riza Marzuki, Ketua Paguyuban Perum Azzahra Garden.

Sadar bahwa mengusir paksa seluruh populasi ular adalah hal yang mustahil, paguyuban warga mengambil langkah inisiatif. Mereka menggandeng para pakar dari Sioux Yayasan Ular Indonesia untuk menggelar kegiatan edukasi dan simulasi langsung. Tujuannya satu: memangkas rasa panik dan membekali warga dengan formula cara menghadapi ular di rumah yang tepat.

Membongkar Mitos Garam dan Mengenali Musuh Alami

Salah satu sesi yang paling memikat perhatian warga adalah saat Instruktur Sioux Indonesia, Maulaqul Dafa, mulai meluruskan berbagai salah kaprah yang telanjur mengakar di masyarakat. Salah satunya adalah mitos garam pengusir ular.

“Ular itu tidak takut garam,” tegas Dafa di hadapan warga.

Menurut Dafa, kulit ular bersisik dan tidak sensitif terhadap garam—berbeda dengan hewan berlendir seperti lintah atau bekicot. Alih-alih menaburkan garam, Dafa menyarankan warga untuk fokus pada kebersihan lingkungan:

  • Pangkas rumput liar yang berpotensi menjadi tempat persembunyian.

  • Gunakan wewangian menyengat (seperti karbol atau pembersih lantai) karena ular sangat sensitif terhadap bau tajam.

  • Kendalikan populasi tikus, yang merupakan sumber makanan utama ular. Jika tidak ada makanan, ular dengan sendirinya akan mencari tempat lain.

Simulasi Evakuasi Mandiri: Jangan Asal Sedot Racun!

Tak hanya teori, tensi kegiatan meningkat saat sesi simulasi dimulai. Warga diajak langsung mempraktikkan cara evakuasi ular menggunakan alat-alat sederhana yang ada di rumah, seperti sapu dan pengki, tanpa harus melakukan kontak fisik langsung dengan tubuh ular.

Warga juga diajarkan cara mengidentifikasi jenis ular secara visual, membedakan mana yang berbisa tinggi dan mana yang tidak berbisa.

Namun, yang tidak kalah krusial adalah edukasi mengenai pertolongan pertama gigitan ular. Sioux Indonesia menegaskan agar warga segera meninggalkan metode lama yang sering terlihat di film-film.

Catatan Penting: Menyayatkan luka atau mencoba menyedot darah dari bekas gigitan ular adalah tindakan berbahaya yang justru bisa mempercepat penyebaran racun atau memicu infeksi parah.

Langkah terbaik adalah meminimalisir pergerakan bagian tubuh yang tergigit (imobilisasi) dan segera membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan Serum Anti-Bisa Ular (SABU).

Membangun Kesiapsiagaan dari Lingkungan Terkecil

Melalui edukasi ular Bantul ini, atmosfer ketakutan di Perum Azzahra Garden perlahan luruh, berganti dengan rasa percaya diri. Anak-anak yang tadinya menjerit ketakutan kini mengerti bahwa ular bukanlah monster yang harus dibunuh seketika, melainkan bagian dari ekosistem yang perlu diwaspadai dengan kepala dingin.

Kini, saat musim pancaroba mencapai puncaknya, warga Pleret telah mengantongi bekal berharga. Mereka siap menjaga keamanan keluarga dan lingkungan, tanpa harus mengorbankan keseimbangan alam yang ada di sekitar mereka. []

Related posts