BacaJogja — Industri kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menunjukkan taringnya. Melalui ajang Temu Kemitraan dan Gelar Produk Kulit bertajuk “Gebyar Kulit Jogja: Menembus Batas, Merajut Kemitraan”, para pelaku usaha lokal ditantang untuk naik kelas dan memperluas jangkauan pasar hingga ke ranah internasional.
Acara yang berlangsung di Ndalem Kulit Jogja pada Selasa (9/6/2026) ini dihadiri langsung oleh Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, didampingi Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Turut hadir pula Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, serta Wakil Ketua ASITA Bidang Produk dan Pemasaran, Fachri Herkusuma.
Gelaran ini diikuti oleh sedikitnya 52 pengrajin kulit berbakat dari seluruh penjuru DIY. Mereka memamerkan aneka produk berbahan kulit sapi asli, mulai dari sandal, tas, sepatu, jaket, hingga aksesori etnik. Harganya pun sangat variatif dan kompetitif, dibanderol mulai dari Rp20.000 hingga jutaan rupiah.
Tantangan Digitalisasi: Pengrajin Harus Melek Konten
Dalam sambutannya, GKR Bendara menekankan pentingnya adaptasi teknologi bagi para pelaku kerajinan kulit Jogja. Di era modern ini, kualitas produk yang baik saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan strategi pemasaran digital yang agresif.
“Pengrajin harus melek digital dan promosi online. Saat ini media sosial menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai kualitas dan proses pembuatan produk kulit asli,” tegas GKR Bendara.
Beliau juga melihat adanya peluang besar di tengah melonjaknya nilai tukar dolar. Kondisi ini dinilai membuat produk lokal jauh lebih kompetitif di mata wisatawan mancanegara (wisman), khususnya turis dari Malaysia, Singapura, Jepang, dan Tiongkok yang belakangan kian gemar berburu oleh-oleh premium di Yogyakarta.
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, GKR Bendara mengajak seluruh komunitas pengrajin untuk kompak membuat konten edukasi bersama di media sosial.
“Bayangkan jika 52 pelaku usaha secara rutin mengunggah konten edukasi bersama. Dampaknya akan sangat besar dalam membangun awareness masyarakat terhadap produk kulit Jogja,” imbuhnya. Ia juga mengingatkan agar pengrajin fokus pada kualitas pengerjaan, desain, dan personalisasi produk alih-alih terjebak dalam perang harga.
Wawali Kota Jogja Borong Sepatu, Puji Kualitas Handmade
Apresiasi tinggi juga datang dari Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Ia mengaku sangat terkesan dengan inovasi yang dihadirkan oleh UMKM binaan Ndalem Kulit Jogja tersebut. Bukti konkretnya, Wawan langsung membeli sepasang sepatu kulit asli di lokasi pameran dan langsung memakainya.
Menariknya, proses transaksi belanja tersebut dilakukan secara modern menggunakan metode pembayaran digital QRIS, menunjukkan bahwa UMKM Jogja siap menyongsong ekosistem cashless.
“Saya melihat langsung kualitas produknya sangat baik dan kompetitif. Kualitasnya sudah sangat bagus dan mampu bersaing dengan produk dari luar,” puji Wawan.
Wawan berharap, ke depan seluruh stakeholder—mulai dari pemerintah, pengusaha, hingga komunitas—bisa bersinergi membangun ekosistem industri kulit yang solid di Kota Gudeg. Dengan kolaborasi yang kuat, produk lokal diyakini mampu menembus pasar global dengan lebih mudah.
Sinergi dan Nilai Seni Tinggi
Sinyal positif ini disambut baik oleh para pengrajin. Bowo, salah satu pelaku usaha yang ikut memamerkan karyanya, sepakat bahwa sinergi antar-pengrajin adalah kunci utama untuk mendongkrak daya saing.
Ia berharap masyarakat bisa lebih mengapresiasi kerajinan tangan (handmade) lokal yang sebenarnya memiliki nilai seni dan tingkat kesulitan yang tinggi.
“Melalui kolaborasi dan kecintaan terhadap produk dalam negeri, kami berharap karya-karya pengrajin kulit tidak lagi dipandang sebelah mata dan memiliki nilai jual yang sesuai dengan kualitas serta proses pemenuhannya,” pungkas Bowo.
Selain pameran produk, acara Gebyar Kulit Jogja ini juga dimeriahkan dengan aksi live craftmanship, di mana para pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan tempat kacamata berbahan kulit di Ndalem Kulit Jogja. Aktivitas interaktif seperti ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi sektor wisata belanja Jogja ke depannya. []






