BacaJogja – Selain keseruan di lapangan, MLSC Yogyakarta Seri 2 juga memperlihatkan bagaimana pembinaan atlet putri usia dini berkembang signifikan. Sejumlah pemain muda tampil mencolok — seperti Nadia Shakila Azzahra, Shima Putri Larasati, dan Danisa Anindya Nuha Zahira — menunjukkan potensi besar untuk berkompetisi lebih tinggi. Konsistensi performa dan keberanian mengambil keputusan di lapangan menjadi indikator bahwa pembinaan dasar mereka telah berjalan pada jalur yang tepat.
Turnamen ini juga memperlihatkan adanya pergeseran positif dalam pola pikir siswi SD terhadap sepak bola. Jika dulu olahraga ini masih dianggap dominan sebagai ranah laki-laki, kini semakin banyak siswi yang mengikuti klub sepak bola sekolah maupun SSB. MLSC menjadi magnet yang menarik minat mereka, memberikan ruang aman untuk mencoba, belajar, dan bersaing secara sehat.
Menuju All-Stars: Talent Scouting Mulai Bekerja
Usai turnamen, tim pengamat mulai bekerja mengkurasi pemain terpilih untuk mengikuti MilkLife Extra Training, yang akan menjadi langkah awal pembentukan tim All-Stars Yogyakarta. Proses seleksi akan mempertimbangkan kemampuan teknik, pemahaman permainan, karakter bertanding, serta potensi untuk berkembang dalam jangka panjang.
Asisten Head Coach MLSC, Andri Ramawi Putra, menilai kualitas pemain semakin meningkat meski belum merata di semua posisi. Ia juga mengingatkan bahwa pembinaan usia dini bukan hanya soal kekuatan fisik atau kemampuan teknik, tetapi juga mentalitas kompetitif, disiplin latihan, dan dukungan lingkungan. Menurutnya, All-Stars menjadi kesempatan emas bagi para pemain untuk naik level dari kompetisi sekolah menuju ekosistem pengembangan yang lebih profesional.
Komitmen Berkelanjutan dari Djarum Foundation
Perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation, Satia Chandra Wiguna, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung ekosistem sepak bola putri. Ia menilai MLSC telah membuktikan diri bukan hanya sebagai turnamen, melainkan sebagai ekosistem pembinaan lengkap yang mencakup kompetisi, pendidikan karakter, hingga pemanduan bakat.
Chandra juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan dua seri MLSC musim ini memberikan gambaran bahwa kompetisi semakin merata. Banyak sekolah baru yang mulai mampu bersaing, termasuk SDN Nglarang yang langsung menjadi juara pada musim debutnya. Menurutnya, persaingan yang makin ketat akan membuat kualitas All-Stars di Kudus nanti semakin meningkat.
Regenerasi Dini: Festival SenengSoccer untuk KU 8
Sebagai bagian dari rangkaian MLSC, digelar Festival SenengSoccer yang diikuti 81 peserta usia 6–8 tahun dari 22 sekolah. Kegiatan ini memungkinkan para siswi untuk mengenal sepak bola dari tahap paling dasar. Mereka berlatih melewati rintangan fisik dan teknik secara menyenangkan tanpa tekanan kompetisi.
Program usia dini seperti SenengSoccer menjadi fondasi penting pembinaan jangka panjang. Dengan antusiasme siswa yang tinggi, sekolah memiliki alasan lebih kuat untuk menyediakan ruang latihan sepak bola bagi siswi mereka. Dalam jangka panjang, hal ini akan memperluas jumlah pemain putri yang siap dibina menjadi atlet muda berkualitas. []






