BacaJogja – Selasa siang, 1 Juli 2025, Jembatan Jurug di Solo yang biasanya riuh kendaraan mendadak membeku dalam ketegangan. Di atas pembatas besi yang memisahkan trotoar dan jurang air Bengawan Solo, seorang perempuan berdiri dengan tatapan kosong. Angin menyibak kerudungnya, seakan ikut mengabarkan kegundahan yang tak lagi tertahankan.
Nama inisialnya DSA. Seorang mahasiswi jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sebelas Maret, angkatan 2021. Di usianya yang masih 22 tahun, ia memutuskan sebuah langkah yang membuat siapa pun yang mendengar kisah ini menahan napas.
Hariadi, seorang pengemudi ojek online, menjadi saksi mata terakhir keberadaannya di dunia yang berat ini.
“Saya lihat dia sudah berdiri di atas besi,” cerita Hariadi, suaranya bergetar. “Saya sempat berhenti, saya teriak sekuat tenaga, ‘Mbak, turun saja, jangan!’ Tapi dia langsung melompat.”
Hanya dalam hitungan detik, tubuh muda itu lenyap ditelan derasnya Bengawan Solo. Air yang bergulung coklat seolah merahasiakan ke mana ia pergi.
Baca Juga: Dini Hari Nahas: Dua Pelajar Kecelakaan di Parangtritis Bantul, Satu Luka Berat
Tas Hitam dan Pesan yang Menyayat
Di tepi jembatan, tak jauh dari sepeda motor Honda Beat merah putih yang terparkir, sebuah tas hitam diam dalam sunyi. Di dalamnya, petugas menemukan ponsel, cutter, kartu identitas, dan sebuah buku catatan kecil.
Lembaran itu menyingkap secarik perasaan yang mungkin tak pernah ia bisa ucapkan pada siapa pun secara langsung.
“Aku pergi ya… Jangan salahin keluarga atau tempat instansi atau kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri. Terkadang aku merasa bukan diriku. Aku capek… Maaf untuk Bp. Dr. Sumardiyana, SKM karena telah mengkhianati dan berjanji untuk bertahan… Tak masalah semua orang bilang yang lain bipolar juga bisa… Aku engga… aku capek… Bu, maaf aku tak sekuat Ibu…“
Kata-kata terakhir yang penuh luka dan kerinduan akan damai. Dalam kalimat itu, DSA memohon pengertian—bahwa kepergiannya bukan untuk menyakiti, melainkan untuk mengakhiri pertarungan batin yang tak terlihat mata.
Baca Juga: Akun Medsos Masjid Jogokariyan Sempat Diblokir Usai Unggah Konten Gaza, Kini Aktif Kembali
Pencarian yang Belum Usai
Saat malam mulai tiba dan lampu-lampu jembatan meneteskan kuning sendu ke permukaan air, tim SAR Basarnas, BPBD, dan relawan masih menyusuri aliran sungai. Senter-senter kecil bergerak menyisir tepian, mencari jejak yang mungkin tersisa.
Kapolsek Jebres, Kompol Murtiyoko, berdiri di tepian jembatan dengan wajah serius. Sambil menatap ke arah arus Bengawan Solo yang terus bergemuruh, ia menjelaskan bahwa upaya pencarian masih berlangsung tanpa henti. Basarnas, BPBD, dan para relawan bergantian menyisir aliran sungai, berharap menemukan jejak DSA meski arus deras kerap menghalangi pandangan. “Proses pencarian dimulai dari bawah Jembatan Jurug, tepat di lokasi korban menjatuhkan diri,” katanya pelan.
“Kami mohon bantuan masyarakat. Jika ada yang melihat apa pun di sepanjang aliran sungai, sekecil apa pun petunjuknya, segera laporkan ke pos SAR atau kantor polisi terdekat.”
Baca Juga: Libur Panjang! Commuter Line Yogyakarta–Palur Tambah Jadwal Jadi 31 Perjalanan per Hari
Kompol Murtiyoko juga mengungkapkan, saat pertama kali ditemukan, tak ada identitas yang melekat pada tubuh perempuan muda itu. Hanya sepeda motor yang terparkir dan tas hitam yang tertinggal, menjadi awal petunjuk siapa sosok yang hilang itu. Dari situlah petugas perlahan merangkai potongan informasi, hingga akhirnya memastikan identitas korban sebagai seorang mahasiswi UNS.
“Memang ada surat wasiat di dalam tas korban,” tuturnya, suaranya sedikit menurun, seakan ikut merasakan berat yang tak tertulis di halaman buku catatan kecil itu. “Tapi kami belum bisa menyampaikan detail isi pesannya sekarang. Fokus kami masih satu: menemukan korban.”
Pihak keluarga dan civitas akademika UNS juga sudah dihubungi untuk membantu proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Sepeda motor dan tas hitam kini diamankan petugas. Sementara di kampus, kabar ini menyebar cepat—mengundang rasa kehilangan bagi teman-temannya.
Mengingat yang Tersisa
Tragedi ini adalah pengingat getir bahwa banyak luka tak tampak di balik senyum dan rutinitas. Bahwa kadang orang yang tampak kuat diam-diam sudah hampir menyerah.
Baca Juga: Menjalin Langkah, Merajut Toleransi: Semarak Srawung KobaRun di Jantung Heritage Yogyakarta
Hariadi masih ingat wajah DSA, sesaat sebelum ia melompat. “Tatapannya kosong, seperti orang yang sudah tidak sanggup lagi,” ujarnya pelan.
Bengawan Solo terus mengalir malam itu, membawa kisah seorang anak yang merasa tak lagi mampu menanggung berat di dadanya. []






