BacaJogja – Pagi di Padukuhan Plasan, Kalurahan Watugajah, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul, yang biasanya damai, tiba-tiba tersentak oleh sebuah kabar pilu. Di bawah rindang pohon mangga, di depan sebuah rumah yang berdiri sunyi di ujung dusun, ditemukan sesosok tubuh kaku.
Pria lanjut usia itu, SHS (78), warga Plasan RT 003/RW 004, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa akibat gantung diri. Peristiwa tragis ini seolah menjadi penutup kisah getir seorang lansia yang harus berjuang sendirian melawan penyakit dan kesunyian.
Langkah Sunyi Menuju Sungai
Sabtu (25/10/2025) pagi itu, sekitar pukul 08.30 WIB, Sukardi (47) berjalan menuju sungai. Jalur yang ia lewati membawanya melintasi rumah SHS. Saat itulah pandangannya terhenti. Ia mendapati SHS sudah tergantung di pohon mangga di pekarangan rumahnya.
Baca Juga: Kecelakaan di Bantul: Pejalan Kaki Terserempet Motor, Terlindas Mobil, dan Meninggal
”Saksi pertama hendak ke sungai. Saat melintas, dia melihat korban sudah tergantung. Kemudian ia segera menghubungi perangkat kalurahan dan diteruskan laporannya ke kami,” jelas Kapolsek Gedangsari, AKP Suryanto, membenarkan kejadian yang menggemparkan warga Watugajah tersebut.
Informasi yang dihimpun dari lingkungan sekitar melukiskan gambaran yang lebih dalam tentang sosok SHS. Korban diketahui telah lama menderita penyakit menahun yang tak kunjung sembuh. Penderitaan fisik ini, rupanya, memicu luka yang tak kasat mata.
Depresi di Balik Kesendirian
Sebelum kejadian, SHS sempat menjalani perawatan rumahan oleh pihak keluarga. Namun, sekitar satu minggu belakangan, ia kembali ke rumahnya di Plasan—sebuah rumah yang lokasinya berada di ujung dusun dan cukup jauh dari hiruk pikuk aktivitas warga. Ia tinggal seorang diri.
Baca Juga: Motif Balas Dendam Terungkap di Balik Penusukan Pakai Cula Ikan Pari di Bantul
Fakta ini menjadi kunci yang menjelaskan dugaan motif di balik tindakan nekat tersebut. Keberadaan di ujung dusun, jauh dari keramaian, ditambah beban penyakit menahun yang menggerogoti raga, kuat diduga memicu depresi. Dalam kesendirian, perjuangan melawan penyakit fisik bisa menjadi beban mental yang terlalu berat.
Tim kepolisian Polsek Gedangsari dan tim medis yang tiba di lokasi segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil pemeriksaan, petugas memastikan tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Kesimpulan sementara mengarah pada satu dugaan kuat: SHS mengakhiri hidupnya karena depresi akibat penyakit yang dideritanya. Ini adalah pengingat betapa rentannya kondisi kesehatan mental pada usia lanjut, terutama ketika dukungan sosial dan lingkungan terdekat mulai menjauh.
Kisah SHS dari Gedangsari ini tidak hanya berakhir sebagai berita duka. Ini adalah alarm keras bagi kita semua tentang pentingnya kehadiran, perhatian, dan dukungan emosional bagi para lansia. Di balik perjuangan melawan penyakit fisik, ada pertarungan sunyi melawan rasa putus asa dan kesendirian.
Setelah proses pemeriksaan selesai, jenazah SHS kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Kini, pohon mangga di ujung dusun itu menjadi saksi bisu, mengabadikan sebuah kisah pilu tentang lansia yang mencari ketenangan terakhir setelah lama berjuang dalam sepi.[]






