BacaJogja – Sabtu sore yang biasa di proyek pembangunan ruko kawasan Selokambang, Dusun Gatak, Tamantirto, Kasihan, Bantul, berubah jadi momen duka. Suwandi (44), seorang pekerja bangunan asal Dusun Jasem, Srimulyo, Piyungan, ditemukan tak bernyawa di dasar galian fondasi proyek tempat ia bekerja.
Hari itu, seperti biasanya, Suwandi datang pagi-pagi. Ia dan dua rekannya mulai bekerja sejak pukul 08.00 WIB. Cuaca cukup terik, tapi suasana kerja berjalan normal. Saat istirahat siang, Suwandi masih terlihat sehat. Ia makan dan bercakap santai bersama rekan-rekannya.
Baca Juga: Viral! Sejoli Mesum di Ladang Gunungkidul, Ternyata Sama-Sama Sudah Berkeluarga
Tak ada yang menyangka, istirahat siang itu akan menjadi interaksi terakhir mereka dengan Suwandi dalam keadaan hidup.
“Menjelang sore, salah satu saksi melihat korban duduk diam di dasar lubang sedalam sekitar 1,6 meter. Awalnya dikira sedang beristirahat, tapi setelah dipanggil tidak menjawab,” ungkap AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana, Kasi Humas Polres Bantul.
Rekan kerja yang khawatir memanggil satu rekan lain untuk memeriksa. Saat didekati, tubuh Suwandi sudah dingin dan mulai kaku. Mereka langsung melapor ke Polsek Kasihan.
Baca Juga: Kontingen DIY Siap Berlaga di FORNAS VIII NTB Fishing Tournament 2025 di Gili Trawangan
Tak lama kemudian, petugas dari Polres Bantul bersama tim medis Puskesmas Kasihan I datang ke lokasi. Hasil pemeriksaan awal memastikan bahwa Suwandi telah meninggal dunia kurang dari tiga jam sebelumnya. Matanya terbuka lebar, dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
“Diduga korban meninggal karena sebab alami. Menurut pihak keluarga, malam sebelumnya korban sempat mengeluh pusing kepada istrinya,” tambah Jeffry.
Lebih lanjut, diketahui bahwa Suwandi mengidap penyakit gula (diabetes) yang sudah cukup lama dideritanya. Hal itu memperkuat dugaan bahwa serangan mendadak terkait kondisi kesehatannya.
“Pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah. Tidak ada yang disalahkan,” tutur Jeffry.
Baca Juga: 150 Layang-Layang Internasional Siap Hiasi Langit Parangkusumo di JIKF 2025
Jenazah Suwandi kemudian dibawa pulang ke rumah duka di Piyungan, Bantul. Keluarga, tetangga, dan kerabat melepas kepergian pria pekerja keras itu dalam suasana haru. Suwandi dikenal sebagai pribadi yang rajin dan tak banyak bicara, yang memilih bekerja keras demi menghidupi keluarga.
Hari itu, suara alat bangunan terdiam sejenak. Di antara debu proyek dan bau semen basah, duka menggantung di udara. Seorang pekerja telah pulang lebih dulu, bukan ke rumahnya, tapi ke keabadian. []






