BacaJogja – Pemerintah Daerah DIY mengambil langkah tegas pasca insiden keracunan massal yang dialami 426 siswa SMA Negeri 1 Yogyakarta akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Satgas Percepatan Pelaksanaan Program MBG dan Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
SPPG yang menyuplai makanan untuk SMA Negeri 1 Yogyakarta diketahui berasal dari wilayah Wirobrajan. Berdasarkan laporan, makanan dikonsumsi siswa saat jam istirahat kedua sekitar pukul 11.45 WIB. Namun, proses memasak sempat terganggu karena salah satu koki penyedia jatuh sakit, menyebabkan makanan dimasak lebih awal dari jadwal seharusnya.
“Informasinya, makanan seharusnya dimasak agak siang, tetapi karena kokinya sakit, akhirnya dimasak terburu-buru,” ungkap Ni Made, Kamis (16/10).
Dugaan sementara, penyebab keracunan berasal dari lauk ayam yang disiapkan bersamaan dengan jatah makan untuk jenjang SD. Padahal, menurut prosedur, makanan untuk siang hari tidak boleh dimasak bersamaan dengan jatah pagi.
SPPG Diwajibkan Laporan Rutin dan Pengawasan Ketat
Untuk mencegah insiden serupa, Pemda DIY mewajibkan SPPG melakukan laporan rutin mingguan kepada Ketua Satgas MBG. Laporan tersebut harus memuat informasi kandungan gizi, standar higienitas, serta batas waktu konsumsi makanan.
“Kami memberikan syarat bagi Koordinator SPPG untuk melaporkan secara rutin setiap minggu. Selain kandungan gizi, harus ada informasi waktu layak konsumsi,” tegas Ni Made.
Dalam perjanjian kerja sama antara sekolah dan SPPG, penyedia wajib memastikan makanan bergizi seimbang, higienis, serta memenuhi standar operasional dari tahap pengolahan hingga distribusi. Pelanggaran terhadap perjanjian tersebut akan menjadi dasar sanksi bagi SPPG yang lalai.
Baca Juga: Cekcok Pacaran Berujung Amarah, Driver Ojol di Bantul Dibacok Pacar Pemesan GoRide
SPPG Akui Kelalaian, Siap Bertanggung Jawab
Kepala SMA Negeri 1 Yogyakarta, Ngadiya, menjelaskan menu yang dikonsumsi siswa terdiri dari nasi putih, ayam saus barbeque, tahu krispi, salad sayur, dan buah pisang. Dari total 972 siswa, 426 di antaranya mengalami gejala keracunan berupa sakit perut dan diare ringan, sedangkan 33 siswa absen pada Kamis (16/10).
“Yang diduga menyebabkan keracunan adalah ayamnya,” kata Ngadiya.
Pihak SPPG telah mendatangi sekolah dan mengakui adanya kelalaian dalam proses pengolahan makanan. Mereka berjanji akan bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut.
“Pihak SPPG sudah mengakui adanya kelalaian dan siap bertanggung jawab. Kemungkinan saat memasak tidak sesuai SOP,” tutur Ngadiya.
Kasus ini menjadi perhatian serius Pemda DIY, mengingat program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas nasional yang menyasar pelajar di seluruh Indonesia. Evaluasi terhadap seluruh SPPG di wilayah DIY akan dilakukan untuk memastikan standar keamanan pangan dipatuhi secara ketat. []






