BacaJogja — Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik. Sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Sampang, Madura, viral di media sosial setelah beredar video yang diunggah akun zainudin md, memperlihatkan tidak adanya aktivitas belajar mengajar, namun sekolah tersebut disebut tetap menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap hari.
Sekolah yang dimaksud adalah SDN Batuporo Timur 1, yang berada di Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang. Video berdurasi sekitar tiga menit itu menunjukkan kondisi sekolah yang tampak sepi tanpa kehadiran satu pun siswa.
Dalam rekaman tersebut, halaman dan teras sekolah terlihat dipenuhi rumput liar. Cat bangunan tampak kusam dan lingkungan sekolah terkesan tak terawat. Ironisnya, di dalam ruang kelas justru terlihat sejumlah guru duduk santai, membuat kopi, bahkan menonton video musik dangdut.
“Tidak pernah ada aktivitas belajar mengajar di sini. Tidak ada satu siswa pun,” ujar pria yang merekam video tersebut.
Sekolah Sepi, MBG Tetap Jalan
Fakta yang paling menyita perhatian publik adalah klaim bahwa SDN Batuporo Timur 1 tetap menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap hari, meskipun tidak terlihat adanya siswa.
Padahal, Program MBG merupakan program yang dibiayai dari APBN, menggunakan uang rakyat, dan secara khusus diperuntukkan bagi peserta didik guna meningkatkan gizi serta kualitas pendidikan.
Kondisi ini pun memicu pertanyaan serius dari masyarakat.
Jika siswanya tidak ada, lalu:
- MBG itu didistribusikan ke siapa?
- Apakah benar diterima oleh siswa?
- Atau justru dikonsumsi pihak lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut ramai dibahas warganet dan memicu dugaan adanya pemborosan anggaran negara, bahkan potensi penyimpangan dalam pelaksanaan program.
Sorotan terhadap Pengawasan dan Validasi Data
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan dan validasi data penerima MBG di tingkat sekolah. Program berskala nasional seperti MBG seharusnya memiliki mekanisme kontrol ketat, mulai dari pendataan jumlah siswa, kehadiran, hingga distribusi makanan.
Jika sebuah sekolah tidak memiliki siswa aktif namun tetap tercatat sebagai penerima MBG, maka hal tersebut menjadi alarm keras bagi:
- Dinas Pendidikan setempat
- Pengelola program MBG
- Aparat pengawas internal pemerintah
Publik menilai, kasus ini bukan sekadar persoalan sekolah sepi, melainkan menyangkut akuntabilitas penggunaan uang negara.
Respons Publik dan Desakan Evaluasi
Video viral tersebut memicu reaksi keras warganet. Banyak yang mendesak agar:
- Dilakukan audit menyeluruh terhadap distribusi MBG
- Dinas Pendidikan turun langsung ke lapangan
- Penyaluran program dievaluasi dan ditertibkan
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun dinas terkait mengenai kondisi sebenarnya di SDN Batuporo Timur 1, termasuk kejelasan distribusi MBG yang diterima sekolah tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa program yang baik bisa bermasalah jika pengawasan lemah. Transparansi dan pengendalian mutlak diperlukan agar bantuan negara benar-benar tepat sasaran dan tidak merugikan keuangan publik. []






