BacaJogja – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa tata ruang Yogyakarta sejak berdirinya Kasultanan pada tahun 1755 tidak hanya berkaitan dengan bangunan, wilayah, atau tata kota semata. Lebih dari itu, tata ruang Yogyakarta merupakan cerminan filosofi kehidupan yang sarat nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan peradaban Jawa.
Pernyataan tersebut disampaikan Sri Sultan saat membuka Pameran Temporer “Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta” di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Sabtu (7/3/2026). Pembukaan pameran berlangsung khidmat meski hujan turun di kawasan Keraton.
“Tata ruang bukan sekadar planologi, tetapi kosmologi kehidupan. Di dalamnya tercermin nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan suatu peradaban,” ujar Sri Sultan dalam sambutannya.
Menurut Sri Sultan, sejak awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta, konsep tata ruang kota telah dirancang dengan landasan filosofi yang mendalam. Tata ruang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengaturan wilayah, tetapi juga sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Filosofi Sumbu Imajiner Yogyakarta
Sri Sultan menjelaskan bahwa konsep tata ruang Yogyakarta erat kaitannya dengan Sumbu Imajiner Gunung Merapi – Keraton Yogyakarta – Laut Selatan. Sumbu ini dikenal sebagai bagian dari filosofi Sangkan Paraning Dumadi, yang menggambarkan perjalanan eksistensial manusia dari asal mula kehidupan hingga kembali kepada Sang Pencipta.
Menurutnya, sumbu imajiner tersebut bukan sekadar garis geografis yang menghubungkan wilayah utara dan selatan Yogyakarta. Lebih dari itu, konsep tersebut menjadi simbol keseimbangan antara manusia, alam semesta, dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat Jawa.
“Tata ruang Yogyakarta sejak awal dibangun dengan filosofi kehidupan yang menautkan manusia dengan alam semesta,” jelas Sri Sultan.
Peragaan Busana “Buron Wana” Warnai Pembukaan
Pembukaan Pameran Smarabawana juga dimeriahkan dengan peragaan busana bertema “Buron Wana” yang menampilkan 12 figur satwa simbolik dalam filosofi Jawa. Penampilan tersebut berlangsung di Pagelaran Keraton dengan latar arsitektur klasik yang menambah kesan sakral.
Dua belas figur satwa yang ditampilkan antara lain Gajah, Landak, Bulus, Naga, Yuyu (kepiting sungai), Kluyu, Turonggo (kuda), Kidang (rusa), Merak, Macan, Celeng, dan Peksi (burung).
Peragaan busana ini diiringi lantunan a cappella dari Yogyakarta Royal Choir, menciptakan perpaduan antara seni pertunjukan, budaya, dan filosofi Jawa yang memikat para tamu undangan serta masyarakat yang hadir.
Bagian dari Tingalan Jumenengan Dalem
Pembukaan pameran turut dihadiri sejumlah anggota keluarga Keraton Yogyakarta, di antaranya GKR Hemas, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, serta KPH Notonegoro.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas.
Melalui pameran Smarabawana, Keraton Yogyakarta ingin mengajak masyarakat memahami bahwa tata ruang Yogyakarta bukan sekadar warisan arsitektur dan tata kota, melainkan juga representasi nilai-nilai filosofi yang telah membentuk identitas budaya Yogyakarta selama berabad-abad. []






