BacaJogja — Arus wisatawan di kawasan Pantai Parangtritis terpantau padat namun tetap lancar dalam beberapa hari terakhir. Lonjakan kunjungan ini menjadi peluang besar bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Salah satu tantangan utama datang dari praktik penghindaran retribusi oleh sejumlah pengunjung. Petugas Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) mengungkapkan berbagai modus yang kerap dilakukan wisatawan agar tidak membayar tiket masuk kawasan wisata.
Salah satu petugas TPR Parangtritis, Roni, mengatakan alasan yang digunakan pengunjung cukup beragam, mulai dari mengaku hanya melintas hingga menyebut hendak menuju daerah lain seperti Gunungkidul atau Pacitan.
“Ada yang bilang mau ke Gunungkidul, mau ke Pacitan, tapi ternyata hanya berkunjung ke Pantai Parangtritis,” ujar Roni, Kamis (26/3).
Modus Klasik: Ngaku Lewat hingga Silaturahmi
Selain mengaku menuju daerah lain, petugas juga kerap mendapati pengunjung yang berdalih hanya melintas atau hendak bersilaturahmi ke kerabat di sekitar kawasan pantai.
Namun, ketika ditelusuri lebih lanjut, alasan tersebut tidak jarang tidak konsisten. Bahkan, situasi di lapangan terkadang memicu perdebatan antara petugas dan wisatawan.
Petugas TPR lainnya, Awal, menyebut momen libur panjang seperti Lebaran menjadi periode paling menantang. Tingginya volume kendaraan membuat potensi penghindaran retribusi juga meningkat.
“Kalau libur Lebaran, alasannya klasik. Ngaku mau silaturahmi, tapi saat ditanya lebih lanjut tidak bisa menjelaskan, akhirnya marah-marah,” kata Awal.
Pengunjung Nekat Terobos, Petugas Pilih Mengalah
Tak hanya adu argumen, petugas juga menghadapi pengunjung yang nekat menerobos tanpa membayar retribusi. Kondisi ini dinilai cukup berisiko, terutama bagi keselamatan petugas di lapangan.
Meski di lokasi telah disiagakan aparat dari kepolisian dan TNI, petugas tetap mengedepankan keselamatan. “Kalau ada yang nekat menerobos, kami mengalah daripada tertabrak kendaraan,” ujarnya.
Selain menghadapi perilaku pengunjung, petugas juga menyoroti aspek fasilitas. Menurut Roni, keberadaan lokasi TPR yang lebih representatif akan sangat membantu optimalisasi penarikan retribusi.
Ia menyebut kondisi tersebut telah diketahui oleh pihak terkait, mulai dari Dinas Pariwisata hingga pimpinan daerah. “Kalau ada lokasi TPR khusus tentu lebih nyaman dan hasilnya bisa lebih maksimal,” tandasnya.
Dilema Retribusi: Antara PAD dan Persepsi Wisatawan
Di satu sisi, retribusi menjadi komponen penting dalam mendukung pengelolaan kawasan wisata dan meningkatkan PAD. Namun di sisi lain, persepsi sebagian wisatawan terhadap tarif dan sistem pemungutan masih menjadi pekerjaan rumah.
Petugas di lapangan pun memilih tetap menjalankan tugas dengan pendekatan persuasif, meski kerap menghadapi tekanan. “Yang penting kami bekerja maksimal, untuk evaluasi kami serahkan ke pimpinan,” kata Awal. []






