BacaJogja – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS mulai berdampak langsung pada pelaku usaha kecil di Yogyakarta. Salah satu yang paling terasa adalah para pengrajin tempe yang kini harus menghadapi lonjakan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama.
Nilai tukar Rupiah bahkan sempat menembus Rp17.506 per dolar AS pada Rabu (13/5/2026). Kondisi tersebut membuat harga kedelai terus merangkak naik dan memaksa produsen tempe mengambil langkah bertahan agar tidak kehilangan pelanggan.
Salah satunya dilakukan Toni Afandi, pemilik usaha Tempe Murni Ibu Nurcahyo di kawasan Warungboto, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Ia mengaku tidak berani menaikkan harga jual karena khawatir pembeli beralih ke produk lain.
Sebagai solusi, ukuran tempe yang dijual kini dibuat lebih kecil dibanding biasanya. “Akhirnya sekarang harus dikecilkan ukurannya. Kalau untuk menaikkan harga sudah susah. Karena pelanggan pun ada yang nggak mau kalau harganya naik,” ujar Toni, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, kenaikan harga kedelai sudah terasa sejak sekitar satu bulan terakhir. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.700 per kilogram kini menembus Rp11.000 per kilogram.
Padahal usaha tempe milik keluarganya sudah berjalan sejak era 1970-an dan menjadi salah satu pemasok tempe untuk sejumlah pasar tradisional serta warung makan di Yogyakarta.
Biasanya Toni membeli kedelai dalam jumlah besar hingga dua ton sekali kulakan dari distributor di kawasan Tamansari. Namun kini ritme produksi mulai terganggu karena keuntungan semakin menipis dan daya beli masyarakat ikut melemah.
“Sehari antara 70 sampai 80 kilogram kedelai. Karena produksi semakin turun, jadi agak lama belinya sekarang. Setelah kedelai habis, nanti pas kulakan harganya sudah berubah, naik lagi,” jelasnya.
Produk tempe miliknya dipasarkan ke Pasar Demangan, Pasar Sentul, hingga warung-warung sayur dan rumah makan dengan harga mulai Rp3.000 sampai Rp10.000 per papan.
Meski ukuran tempe kini lebih ramping, Toni bersyukur pelanggan setia masih memahami kondisi yang dihadapi para pengusaha kecil di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga bahan baku impor.
Fenomena “tempe diet” ini pun menjadi gambaran nyata dampak pelemahan Rupiah terhadap kebutuhan sehari-hari masyarakat. Bukan hanya pelaku usaha yang terjepit, konsumen juga mulai merasakan perubahan ukuran bahan pangan yang semakin mengecil demi menjaga harga tetap terjangkau. []






