Tragedi Mahasiswi UNS Lompat dari Jembatan Jurug: Diduga Alami Bipolar, UNS Beberkan Fakta Lengkap

  • Whatsapp
Jembatan jurug
Tim SAR melakukan pencarian mahasiswi UNS yang melompat dari Jembatan Jurug. (Ist)

BacaJogja – Warga di sekitar Jembatan Jurug, Solo, dikejutkan oleh aksi tragis seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) yang nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Sungai Bengawan Solo, Selasa (1/7/2025).

Korban diketahui adalah Dewiastari Anugrah (22), mahasiswi asal Temanggung yang menempuh studi di Program Studi D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Sekolah Vokasi UNS.

Read More

Sebelum melompat, korban meninggalkan sepeda motor dan tas di atas jembatan. Yang menyayat hati, ditemukan sepucuk surat tulisan tangan berisi pesan perpisahan. Dalam surat itu, korban menyebut dirinya kelelahan, merasa bukan dirinya sendiri, dan menyebut satu kata kunci: bipolar.

Baca Juga: Septian Eka Rahmadi, Mahasiswa UGM KKN yang Gugur Saat Mengabdi di Maluku

“Aku pergi ya… Jangan salahin keluarga atau tempat instansi atau kuliah. Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri… Aku capek… Tak masalah semua orang bilang yang lain bipolar juga bisa, aku enggak… aku capek…,” tulis korban dalam surat tersebut.

UNS Klarifikasi: Korban Sudah Selesaikan Skripsi, IPK Tinggi, dan Pernah Konseling

Menanggapi kejadian tersebut, UNS melalui Sekretaris Universitas, Prof. Agus Riwanto, S.H., M.H., memberikan klarifikasi resmi. Ia membenarkan bahwa korban merupakan mahasiswa aktif dan telah menyelesaikan seluruh tugas akademiknya, termasuk skripsi yang sudah direvisi. Korban tercatat sebagai penerima beasiswa KIP-K dan memiliki IPK tinggi, yakni 3,8.

“Yang bersangkutan mempunyai masalah kejiwaan dan riwayat percobaan bunuh diri sejak 2023 hingga 2025 dengan berbagai cara. Bahkan pernah dirawat di rumah sakit jiwa,” kata Prof. Agus dalam keterangan tertulis kepada media.

Pihak kampus juga mengungkap bahwa korban sudah menjalani konseling sejak Januari 2025 di Subdirektorat Layanan Konseling Mahasiswa UNS dan sempat mengungkap keinginan untuk bunuh diri.

Baca Juga: Mahasiswi Lompat dari Jembatan Jurug Solo, Tinggalkan Surat Wasiat Penuh Luka

Surat Wasiat Sebut Nama Dosen, UNS: Sudah Diberi Dukungan Penuh

Dalam surat yang ditinggalkan, korban sempat menyebut nama dosen pembimbingnya, Dr. Sumardiyono, S.K.M., M.Kes. Pihak UNS menegaskan, dosen tersebut justru telah memberikan dukungan baik secara akademik maupun psikologis.

“Dr. Sumardiyono mengetahui kondisi kejiwaan mahasiswa dan memberikan berbagai kemudahan dalam proses skripsi, bahkan menyarankan cuti akademik. Namun, korban menolak karena tidak ingin dikasihani,” jelas Prof. Agus.

UNS Pastikan Tak Ada Tekanan Akademik, Fokus Perkuat Konseling

UNS memastikan bahwa tragedi ini tidak ada kaitannya dengan tekanan akademik, melainkan murni karena gangguan psikologis yang telah berlangsung lama.

“Peristiwa ini tidak terkait dengan proses belajar mengajar di program studi, tetapi karena kondisi gangguan kejiwaan yang dialami korban,” tegasnya.

Baca Juga: Diva Aulia Lestari: Senyum yang Kini Hanya Tinggal Kenangan

UNS menyatakan akan memperkuat sistem pendampingan dan konseling mahasiswa, terutama di lingkungan Sekolah Vokasi, guna mencegah terulangnya kejadian serupa.


Apa Itu Gangguan Bipolar?

Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai perubahan suasana hati ekstrem—dari sangat bahagia (mania) menjadi sangat sedih (depresi). Menurut Halodoc, bipolar termasuk gangguan kronis, namun bisa dikendalikan dengan terapi dan pengobatan yang tepat.

Penting bagi masyarakat, terutama lingkungan kampus, untuk memahami bahwa bipolar bukan kelemahan mental, melainkan kondisi medis yang membutuhkan perhatian dan dukungan menyeluruh.[]

Related posts