BacaJogja – Di Kaliurang, ada sepasang sajian yang tak pernah lekang dimakan zaman: jadah tempe Mbah Carik. Bukan sekadar camilan, tetapi warisan rasa yang hidup dalam ingatan, melekat dalam budaya, dan menjadi simbol kebanggaan Yogyakarta.
Terbuat dari ketan dan kelapa yang dipadukan dengan tempe bacem gurih-manis, jadah tempe menghadirkan kombinasi tekstur lembut, kenyal, dan aroma menggoda. Sejak 1950-an, racikan ini lahir dari tangan Ngadikem Sastrodinomo, seorang carik (juru tulis desa) yang membuka warung kecil di Telaga Putri, Kaliurang.
Inovasi sederhana itu menarik perhatian banyak orang, bahkan hingga ke Keraton Yogyakarta. Sultan HB IX memberi nama “Mbah Carik” agar mudah dikenali para utusan keraton ketika hendak membeli jadah tempe kesukaan keluarga istana. Sejak itu, nama Mbah Carik menjadi penanda cita rasa otentik.
Baca Juga: Sri Sultan HB X Jadi Teladan di Tengah Fenomena “Stop Tot Tot Wuk Wuk”
“Kalau dulu itu ada beberapa penjual jadah. Kebetulan dari keraton itu sering belinya di tempat si Mbah. Biar nggak keliru kalau utusan itu, makanya dari keraton dikasih nama Mbah Carik,” tutur Beti, karyawan warung, Senin (09/09).
Dari Dapur Kayu ke Warisan Budaya
Bukan hanya soal lidah, jadah tempe kini juga diakui sebagai identitas budaya. Pada 26 Mei 2025, kuliner ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) DIY, bersama 31 karya budaya lainnya.
Resepnya sederhana: ketan, kelapa, garam, tempe, tahu, dan gembus. Tapi pemilihan bahan tidak bisa sembarangan. “Ada ketan itu macam-macam. Perlakuannya sama, hasilnya bisa beda. Kadang empuk, kadang kaku. Kalau di sini biasanya pakai campuran ketan lokal dan impor,” jelas Beti.
Baca Juga: Pasar Kangen TBY 2025: Kedaulatan Pangan dan Cinta Produk Lokal Yogyakarta
Prosesnya panjang: kelapa dikupas, diparut, lalu dicampur dengan ketan yang sudah direndam. Adonan dikukus satu setengah jam sebelum ditumbuk. Sementara itu, tempe bacem direbus dengan gula dan garam selama 2–3 jam hingga manis legit.
Meski kini tersedia kompor gas, dapur Mbah Carik tetap setia menggunakan kayu bakar. “Kalau produksi besar, pasti pakai kayu. Jadi ada rasa sangit-sangitnya gitu, khas,” ungkap Beti.
Rasa yang Dirindukan
Lebih dari sekadar panganan, jadah tempe adalah cerita tentang kesetiaan menjaga tradisi. Dari warung sederhana, jadah tempe terus menemani para perantau yang rindu kampung halaman.
“Harapannya jadah tempe tetap dikenal masyarakat luas. Kalau orang pulang ke Jogja, tetap mencari jadah tempe Mbah Carik. Biar selalu dirindukan,” tutup Beti.
Sebagian orang menjulukinya “Burger Jawa”. Namun di balik julukan itu, jadah tempe adalah simbol kehangatan desa, kreativitas rakyat kecil, dan jejak budaya yang kini diakui negara. Dari kepulan asap kayu bakar di dapur Mbah Carik, aroma jadah tempe akan selalu mengepul—menjaga rasa, sejarah, dan kerinduan yang tak pernah padam. []






