BacaJogja – Panitia Pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2026 berencana memoles perayaan Tahun Baru Imlek agar sekaligus menjadi destinasi ngabuburit atau aktivitas menunggu waktu berbuka puasa di kawasan Ketandan, Kota Yogyakarta.
Rencana tersebut disampaikan Ketua Panitia PBTY 2026, Jimmy Sutanto, usai bertemu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X, Senin (19/1/2026), di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Menurut Jimmy, PBTY 2026 tetap digelar selama tujuh hari penuh, yakni mulai 25 Februari hingga 3 Maret 2026, berlokasi di kawasan Ketandan yang dikenal sebagai salah satu pusat sejarah komunitas Tionghoa di Yogyakarta.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, PBTY 2026 akan berlangsung selama tujuh hari. Yang terpenting bagi kami adalah bagaimana kegiatan ini mampu merangkum seluruh unsur golongan, seni, dan budaya dalam semangat kebersamaan,” ujar Jimmy.
Panggung Budaya Dipusatkan di Jalan Suryatmajan
Jimmy menjelaskan, PBTY 2026 tetap menghadirkan panggung utama seni budaya yang menampilkan beragam pertunjukan lintas budaya. Namun, terdapat perbedaan pada penataan lokasi.
Pada tahun ini, panggung budaya direncanakan berada di sekitar Jalan Suryatmajan, tidak jauh dari kawasan utama Ketandan.
“Untuk bentuk dan titik pasti panggung masih kami rundingkan. Semua akan disesuaikan dengan kondisi lapangan agar tetap nyaman dan aman bagi pengunjung,” jelasnya.
Panggung tersebut nantinya akan menjadi ruang ekspresi seni budaya Tionghoa dan Nusantara, sekaligus sarana hiburan masyarakat selama pelaksanaan PBTY.
PBTY 2026 Digelar Bertepatan dengan Bulan Ramadan
Sementara itu, Wakil Ketua Pelaksana PBTY 2026, Subekti Saputro Wijaya, menambahkan bahwa pelaksanaan PBTY tahun ini memiliki tantangan sekaligus peluang baru karena bertepatan dengan bulan Ramadan.
Kondisi ini mendorong panitia untuk merancang konsep acara yang lebih inklusif, sehingga dapat menjadi pilihan lokasi ngabuburit bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
“Kami akan meramu konsep kegiatan, panggung hiburan, hingga stand agar dapat dinikmati sebagai kegiatan ngabuburit tanpa menghilangkan nilai budaya Imlek,” ungkap Subekti.
Ia berharap, kolaborasi antara nuansa Imlek dan suasana Ramadan justru memperkuat pesan toleransi, kebersamaan, dan keberagaman yang selama ini menjadi roh utama Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta.
Simbol Harmoni Budaya di Kota Yogyakarta
PBTY selama ini dikenal sebagai agenda budaya tahunan yang tidak hanya menampilkan kesenian Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol harmoni antarbudaya dan antarumat beragama di Yogyakarta.
Dengan konsep baru yang disesuaikan dengan momentum Ramadan, PBTY 2026 diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung, sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya yang menjunjung tinggi nilai toleransi.[]






