Jejak Terakhir Mbah Bakat Gunungkidul: Pamit Cari Rumput, Pulang dalam Diam

  • Whatsapp

BacaJogja – Senja baru saja turun di langit Gunungkidul, ketika kabar duka menyelinap ke sudut-sudut Padukuhan Karangasem, Kalurahan Bulurejo, Kapanewon Semin. Seorang lelaki sepuh, yang akrab disapa Mbah Bakat, ditemukan tak bernyawa di pematang ladang, Senin (21/7/2025) malam.

Hari itu tampak seperti hari biasa. Sekitar pukul lima sore, Mbah Bakat berpamitan pada keluarga. Ia hendak ke ladang mencari rumput—rutinitas yang telah dijalaninya bertahun-tahun. Tidak ada firasat buruk. Tak ada isyarat aneh. Hanya seulas senyum tipis dan langkah perlahan menuju kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Read More

Namun waktu terus melaju, dan langit makin gelap. Hingga azan Magrib berkumandang, sosok Mbah Bakat belum juga kembali. “Jam lima pamit cari pakan. Tapi sampai setengah tujuh malam belum balik juga,” ujar salah satu kerabat, matanya sembab. Kekhawatiran pun meliputi keluarga dan tetangga. Pencarian dimulai.

Baca Juga: Kecelakaan di Jalan Jogja–Wonosari: Motor Terseret di Bawah Bus Rosalia Indah

Warga berkeliling, menyisir pematang dan ladang yang sudah mulai diselimuti malam. Hingga akhirnya, mereka menemukannya—tergeletak telungkup di atas pematang sawah, diam tanpa suara, tubuhnya dikerumuni semut. Tangis pecah. Suasana mendadak hening dan pilu.

Kapolsek Semin, AKP Wasdiyanto, membenarkan penemuan tersebut. “Korban ditemukan sekitar pukul 19.15 WIB. Hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan,” jelasnya. Petugas medis memastikan penyebab kematian bukan karena tindak kriminal. Jenazah Mbah Bakat kemudian dievakuasi ke rumah duka untuk proses pemulasaraan.

Baca Juga: 14 Kamar Kos Ludes Terbakar di Umbulharjo Yogyakarta, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Kabar meninggalnya Mbah Bakat menyisakan kesedihan mendalam. Sosoknya dikenal sederhana, ramah, dan tak pernah lelah bekerja, meski usianya tak lagi muda. Baginya, ladang adalah ruang hidup. Pematang tempat ia ditemukan adalah saksi bisu kegigihannya menjaga tanah dan hewan ternak hingga akhir hayat.

Kini, ia tak lagi memikul sabit atau membawa ikatan rumput di pundaknya. Ia telah pergi, meninggalkan jejak keikhlasan dalam diam, dan kenangan yang tak akan pudar di hati mereka yang mengenalnya.

Selamat jalan, Mbah Bakat. Ladang itu kini sunyi—seperti kehilangan tuannya. []

Related posts