BacaJogja — Isu kesehatan mental dan tingginya tekanan hidup di era modern terus menjadi perhatian publik. Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) menggelar kegiatan Tata Hati Indonesia di Gedung Graha Sabha Pramana (GSP), Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Sebanyak 5.000 orang antusias mendaftar dalam agenda spiritual dan kesehatan mental ini. Dari total pendaftar, 3.000 peserta hadir langsung memenuhi area GSP UGM, sementara 2.000 peserta lainnya menyimak secara hybrid melalui platform Zoom.
Pendiri YCCK sekaligus guru meditasi, Bunda Arsaningsih, menyampaikan bahwa acara ini diselenggarakan sebagai solusi nyata untuk membantu masyarakat mengolah batin dan mengenali diri.
“Selama ini diskusi tentang kesehatan mental sudah banyak dilakukan di berbagai tempat. Namun, yang menawarkan solusi masih sedikit. Karena itu, kami menghadirkan pendekatan meditatif sebagai salah satu tawaran solusi,” ujar Bunda Arsaningsih.
Prinsip Eling, Nerimo, Waspodo: Mengolah Rasa Tanpa Sekat Agama
Dalam kegiatan gratis ini, peserta diajak mempraktikkan metode meditasi SOUL (Spirit of Universal Life) Reflection. Metode ini mengarahkan setiap individu untuk memanfaatkan energi atau daya batin guna mencapai ketenangan batin (ngelerem ati) serta melakukan koreksi diri.
Bunda Arsaningsih menjelaskan ada tiga prinsip utama yang diterapkan dalam metode SOUL:
-
Eling: Sadar dan ingat akan keberadaan Sang Pencipta.
-
Nerimo: Menerima segala ketetapan hidup dengan keikhlasan.
-
Waspodo: Selalu waspada dan mawas diri dalam mengambil langkah kehidupan.
Ia menegaskan, meditasi SOUL bersifat universal dan dapat diikuti oleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang agama.
“Dengan hati yang bersih, peserta diajak untuk selalu eling dan melibatkan kekuatan Tuhan, apa pun agamanya. Proses ini disebut ngolah roso atau mengolah rasa,” tegaskannya.
Bebas Biaya dan Aksesibel bagi Seluruh Masyarakat
Sebagai bentuk pengabdian dan pelayanan masyarakat, seluruh rangkaian acara Tata Hati Indonesia digelar tanpa dipungut biaya (gratis). Peserta juga tidak dituntut membawa perlengkapan khusus.
Harapannya, teknik meditasi sederhana ini dapat dipraktikkan secara mandiri oleh peserta di rumah untuk menjaga ketenangan pikiran dalam kehidupan sehari-hari.
Dipilihnya Yogyakarta sebagai lokasi utama bukan tanpa alasan. Menurut Bunda Arsaningsih, Jogja sebagai kota pelajar memiliki dinamika kehidupan yang cepat, yang kerap memberikan tekanan batin bagi para mahasiswa maupun masyarakat umum. Peserta yang hadir pun berdatangan dari berbagai penjuru daerah di Indonesia.
“Melalui Tata Hati, kami ingin menunjukkan bahwa kearifan lama tetap bisa dipraktikkan untuk menghadapi tekanan hidup hari ini,” pungkasnya. []






