BacaJogja — Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI bersama sejumlah tokoh kebangsaan dan akademisi melontarkan sorotan tajam terkait krisis figur teladan serta ancaman fanatisme digital yang kian membayangi generasi muda.
Pesan menohok tersebut disampaikan dalam forum Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bertajuk “Pemuda di Tengah Problem Kebangsaan” yang berlangsung di SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada (CBH) Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026). Acara ini diselenggarakan atas kerja sama dengan komunitas Sastra Bulan Purnama.
Jangan Salahkan Pemuda, Beri Teladan Nyata
Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abidin Fikri, S.H., M.H., menyentil kebiasaan umum yang sering menganggap pemuda sebagai sumber masalah. Menurut Anggota DPR/MPR RI ini, kenyataannya justru generasi mudalah yang paling terdampak oleh krisis dan permasalahan nasional.
Ia mengkritik tradisi bangsa yang masih kerap terjebak pada retorika dan pidato tanpa diiringi persiapan yang konkret.
“Anak-anak muda kita sekarang krisis teladan. Sudah semestinya kita sebagai orang tua, para pemimpin, guru, aparat penegak hukum hingga politisi mampu memberi teladan yang baik, bukan sekadar menuntut,” tegas Abidin saat menyampaikan pandangannya.
Abidin menekankan bahwa persoalan pemuda sangat krusial jika dikaitkan dengan persiapan menuju Bonus Demografi 2045.
“Sebab bangsanya yang punya problem, jadi pemudanya terdampak. Saya kira kita semua musti sadar, di tangan pemudalah bangsa ini ke depan dipertaruhkan. Jika kita gagal menyiapkan generasi muda, jangan salahkan mereka kalau ke depan akan dikuasai asing. Sebab ke depan generasi muda kita tidak hanya bersaing dengan sesama, tapi juga berkompetisi dengan generasi muda dari seluruh penjuru dunia,” tambahnya.
Arsitek Sejarah dan Bahaya Fanatisme Digital
Dari perspektif sejarah, tokoh pemuda sekaligus mantan aktivis, M. Thoriq, mengingatkan bahwa Indonesia berdiri berkat pergerakan nyata anak-anak muda yang bertindak di usia sangat belia.
“Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan di usia 40-an. Bahkan Adam Malik mendirikan Kantor Berita ANTARA di usia 19 tahun—seumuran adik-adik SMK di sini. Perintis kemerdekaan kita rata-rata berusia 20 sampai 30 tahun,” ujar Thoriq membakar semangat para siswa.
Thoriq berpesan agar para siswa SMK, baik yang akan menjadi tenaga kesehatan maupun melanjutkan ke perguruan tinggi, tidak bersikap apatis.
“Ketika jadi mahasiswa, Anda punya tanggung jawab moral untuk ikut memikirkan dan memperbaiki berbagai kebobrokan pengelolaan negeri,” tegasnya.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Sanata Dharma, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, menyoroti ancaman dari pesatnya era disrupsi dan revolusi digital. Menurutnya, serbuan disinformasi, hoaks, hingga fanatisme digital memicu timbulnya krisis identitas serta kebudayaan.
“Problem pemuda sekarang berbeda. Ada krisis kebudayaan di mana personal branding atau pencitraan dianggap jauh lebih penting daripada kenyataan. Misal di media sosial, tampil seolah pasangan harmonis, padahal kenyataannya tidak,” ungkap Prof. Yapi.
Prof. Yapi mengajak generasi muda untuk kembali membangun jiwa dan memperlakukan sesama serta alam secara bermartabat.
“Pemuda bukan sekadar pewaris kebudayaan. Kalian adalah arsitek sejarah Indonesia di masa depan yang sanggup mengubah arah bangsa ini menjadi jauh lebih baik,” pungkasnya.
Karya Nyata di Bulan Pemuda
Ketua Penyelenggara, Sonia Prabowo, menjelaskan bahwa momentum kegiatan ini sengaja digelar bertepatan dengan Bulan Pemuda guna memantik kembali spirit perjuangan era pra-kemerdekaan dan peninggalan Sumpah Pemuda 1928 ke konteks kekinian.
Acara ini dihadiri oleh 200 peserta yang terdiri dari siswa-siswi SMK Kesehatan CBH serta aktivis Sastra Yogyakarta. Sebagai bentuk karya nyata, hasil dari pertemuan ini akan dibukukan.
“Sebagai wujud konkretnya, output dari pertemuan ini akan diterbitkan dalam bentuk buku puisi bertema Kemanusiaan yang dirancang meluncur pada 2027 mendatang,” tutup Sonia. []






