BacaJogja — Dalam pelukan malam dan bahkan cahaya pagi, dua perempuan mengalami hal yang sama: rasa takut yang menggigilkan, di atas motor yang seharusnya hanya jadi kendaraan pulang. Di dua waktu berbeda namun di satu wilayah yang sama—Bantul—mereka menjadi saksi dari gelapnya sisi jalanan yang tak banyak orang lihat.
Cerita Pertama: Ketika Malam Memeluk Teror
Perempuan pertama tengah berkendara di Jalan Bantul menuju arah Gose, ditemani temannya, Kamis malam. Sejak dari perempatan Klodran, ia merasa diikuti. Pelaku yang mengendarai motor Vario dan mengenakan helm serta penutup wajah terus membuntuti hingga jalan mulai sepi.
Yang awalnya hanya dicurigai sebagai penjambret, berubah menjadi mimpi buruk: pria itu memepet motornya, lalu memperlihatkan dan memainkan alat kelaminnya sambil menatap tajam ke arah korban.
“Saya langsung teriak, reflek keluar kata-kata kasar, dan baru setelah itu dia berhenti,” ujar korban. Ia dan temannya segera tancap gas, berusaha meninggalkan pelaku sejauh mungkin.
Baca Juga: Ketika Jalan Pulang Jadi Mimpi Buruk: Curhat Perempuan Korban Pelecehan di Kotagede Yogyakarta
Cerita Kedua: Saat Pagi Tak Memberi Rasa Aman
Beberapa hari kemudian, di Ringroad Selatan Bantul, teror kembali terjadi. Kali ini terjadi pada Jumat pagi hari, sebelum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Seorang perempuan yang hendak menyalip motor Supra hitam dikagetkan oleh sapaan pria pengendara: “Mbak…”
Tanpa aba-aba, pria itu langsung memperlihatkan alat kelaminnya secara terang-terangan. Korban panik dan gemetar, memperlambat laju motor lalu berbelok untuk menghindar. Pelaku mengenakan hoodie abu-abu dan terus mengikutinya beberapa saat sebelum akhirnya menjauh.
“Saya nggak sempat ambil foto atau video. Takut banget. Dia masih di belakang saya cukup lama,” ungkap korban yang masih syok.
Bantul yang Gelisah: Jalanan, Ruang Sunyi yang Tak Aman
Dua kejadian, dua waktu, dua korban. Satu lokasi: Bantul. Dan satu pola yang tak bisa diabaikan—pelecehan seksual yang dilakukan secara eksibisionis, tanpa takut, tanpa malu.
Baca Juga: Rofidah, Anak Penjual Jerami Gunungkidul Langganan Juara Kelas yang Tembus UGM
Kita seringkali berpikir bahwa kekerasan hanya hadir dalam bentuk fisik. Namun sesungguhnya, pandangan yang mengintimidasi, tindakan cabul, dan pelecehan seperti ini meninggalkan luka yang tak kalah dalam. Mereka menciptakan ketakutan, membungkam kebebasan perempuan untuk sekadar melintasi jalan.
Suara yang Menggema di Tengah Diam
Kedua perempuan ini memilih bersuara. Mereka tak diam meski tak ada bukti visual. Mereka tak bungkam meski mungkin ada yang meremehkan kisah mereka. Karena mereka tahu, suara mereka bisa menyelamatkan perempuan lain di kemudian hari.
“Jangan diam. Harus berani lawan. Orang seperti itu sekarang muncul kapan saja, bukan cuma malam, pagi pun bisa,” pesan salah satu korban.
Baca Juga: Salah Sasaran! Pria di Kulon Progo Tembak Dua Orang Dikira Klitih, Ternyata Brimob
Sudah saatnya kita berhenti menganggap ini sebagai ‘hal kecil’. Ini bukan gangguan ringan. Ini adalah bentuk kekerasan. Aparat perlu merespons dengan serius. Pemerintah daerah perlu memberi penerangan dan pengawasan lebih. Dan masyarakat, terutama laki-laki, perlu menjadi bagian dari solusi—bukan sekadar penonton.
Jalanan seharusnya milik semua orang. Tapi selama perempuan harus terus waspada bahkan hanya untuk pulang, maka jalanan itu belum sepenuhnya merdeka.
Pengakuan para korban diunggah di media sosial merapinews dan diolah redaksi. Identitas korban sengaja disamarkan demi menjaga privasi. []






