BacaJogja – Di balik sunyinya malam dan langkah kaki yang ringan seusai olahraga, seorang perempuan muda di Kotagede harus menelan pengalaman pahit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di jalanan yang semula terasa akrab, rasa aman itu seketika direnggut oleh tangan tak beradab.
“Min, aku mau cerita…” begitu awal pesan yang dikirim korban kepada akun media sosial merapinews. Suaranya lirih, tapi penuh keberanian. Ia meminta namanya disamarkan, namun ingin kisahnya didengar—agar tak ada lagi yang menjadi korban setelahnya.
Kejadian itu berlangsung pada 4 Juni 2025, sekitar pukul 21.00–22.00 WIB, di Jalan Mondorakan, Kotagede, tepat di depan KP3Y, tak jauh dari pangkas rambut dan bakul kelapa. Malam itu, korban dan temannya tengah berjalan kaki pulang usai run street, olahraga yang kini makin digemari perempuan muda.
Baca Juga: Anak Marbot Masjid di Kulon Progo Tembus UGM Tanpa Tes: Kisah Elsa Menapaki Jalan Impian
Tiba-tiba, sebuah motor melaju pelan dari arah belakang. “Aku di depan temenku, motor itu mepet. Kukira siapa, eh, tiba-tiba dia megang bokongku,” kisahnya dengan getir.
Ia langsung berhenti, shock, lalu berteriak dan mencoba mengejar pelaku. Tapi si pengendara motor itu sudah keburu ngebut ke arah Kemasan. Plat motornya, meski tak terbaca jelas, diketahui berawalan AB. Ciri-ciri pelaku: mengenakan jaket brukut abu-abu, masker hitam, dan—yang paling mencurigakan—tidak memakai helm.
“Temenku bilang, mungkin pelakunya orang situ juga, karena nggak pakai helm,” tambahnya.
Korban berharap ada CCTV di sekitar lokasi kejadian. “Kalau ada, nggak masalah disebar. Biar orang-orang tahu siapa pelakunya. Aku nggak mau ada yang ngalamin ini lagi,” ujarnya, masih dengan nada gemetar.
Baca Juga: Jadwal Libur Layanan SIM Selama Iduladha 2025: Cek Tanggal dan Masa Dispensasi!
Meski luka itu tak terlihat secara fisik, trauma yang ditinggalkan sangat dalam. Ini bukan hanya tentang rasa malu, tapi juga tentang rasa aman yang dirampas begitu saja di ruang publik yang seharusnya milik semua orang—terutama perempuan.
Ia menutup kisahnya dengan pesan penuh empati, “Hati-hati ya, cewek-cewek yang suka olahraga malam. Stay safe.”
Kisah ini adalah pengingat bahwa pelecehan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Dan sudah saatnya kita semua—masyarakat, aparat, dan lingkungan sekitar—tidak lagi diam, tapi mulai bergerak untuk menciptakan ruang publik yang benar-benar aman bagi semua. []






