BacaJogja – Kasus penganiayaan terhadap remaja yang kedapatan makan saat siang hari di bulan Ramadan di Desa Pasiraman Kidul, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, memasuki babak baru. Polisi mengamankan delapan remaja yang terlibat dalam aksi perundungan tersebut.
Sebelumnya, publik dihebohkan video berdurasi 27 detik yang viral di media sosial. Dalam rekaman itu, seorang remaja dipukul dua kali di bagian belakang kepala saat sedang makan nasi bungkus di sudut lapangan desa. Peristiwa terjadi pada Jumat (20/2/2026).
Aksi tersebut dipicu alasan para pelaku yang mengaku tidak terima wilayahnya digunakan untuk makan saat waktu puasa. Mereka menilai tindakan korban dapat mencoreng nama desa.
Polisi Amankan Para Pelaku
Kapolsek Pekuncen, AKP Slamet Husein, membenarkan pihaknya telah mengidentifikasi dan mengamankan delapan remaja yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Seluruhnya masih berstatus pelajar.
“Para pelaku sudah kami mintai keterangan. Mereka mengakui perbuatannya dan menyadari tindakan tersebut salah,” ujarnya.
Selain pemeriksaan, kepolisian juga memfasilitasi pertemuan antara kedua belah pihak dengan menghadirkan orang tua serta perangkat desa setempat.
Video Klarifikasi Ikut Viral
Dalam proses mediasi, para remaja yang terlibat membuat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Klarifikasi tersebut dibacakan bersama-sama sebagai bentuk tanggung jawab.
Video klarifikasi itu pun kembali viral di media sosial dan menuai beragam tanggapan warganet. Sebagian menilai langkah tersebut sebagai bentuk pembinaan, sementara lainnya mempertanyakan efek jera yang akan ditimbulkan.
Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Petrus Silalahi, sebelumnya menegaskan penyelesaian kasus ini diupayakan melalui mekanisme restorative justice, mengingat seluruh pihak yang terlibat masih di bawah umur.
“Kami mengedepankan penyelesaian secara musyawarah dan pembinaan, agar masa depan anak-anak ini tetap terjaga,” ujarnya.
Sorotan Publik
Kasus ini memicu diskusi luas di masyarakat tentang batas menegur dan tindakan main hakim sendiri. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum menahan emosi justru diwarnai aksi kekerasan yang berujung viral.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya edukasi kepada remaja mengenai toleransi, pengendalian diri, serta bijak menggunakan media sosial. []






