Sampah Disulap Jadi Cuan: Inovasi Jogja Life Cycle Bangkitkan Ekonomi dari Limbah

  • Whatsapp
produk daur ulang sampah
Produk daur ulang sampah plastik di Yogyakarta. (Pemkot Jogja)

BacaJogja – Meja, kursi, tasbih, hingga medali tak lagi harus berasal dari bahan mahal. Di tangan kreatif para penggiat lingkungan di Jogja Life Cycle, sampah plastik justru menjelma menjadi barang bernilai ekonomi tinggi.

Berawal dari kolaborasi Jogja Life Cycle, Forum Bank Sampah Giwang Bersih Kelurahan Giwangan, dan Rumah Zakat Kota Yogyakarta, lahirlah sebuah gerakan daur ulang plastik yang tak hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Program ini secara resmi diluncurkan pada Selasa (15/7/2025), disambut antusias oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Read More

“Kreativitas seperti ini harus didukung dan saya sangat apresiasi. Yang perlu dipikirkan ke depan adalah bagaimana bahan baku bisa tersedia secara kontinu dan murah, lalu strategi pemasarannya agar produk ini benar-benar produktif,” ujar Hasto.

Baca Juga: Ratusan Muslimat NU Bantul Semarakkan Senam Mustika Segar di Embung Imogiri

Dari Botol Plastik Jadi Tasbih dan Kursi

Pendiri Jogja Life Cycle, Ilham Zulfa Pradipta, memulai langkahnya sejak 2022 lewat riset dan percobaan. Setahun berselang, ia resmi memproduksi berbagai produk daur ulang dari plastik—mulai dari papan, coaster, medali, plakat, tasbih, gelang, hingga kursi.

“Kami pakai bahan dari 13 bank sampah di Giwangan, tapi karena masih belum cukup, kami juga ambil dari luar kota. Kebutuhan kami 35–50 kilogram per hari, sementara pasokan lokal baru 65 kilogram per bulan,” jelas Ilham.

Jenis plastik yang digunakan umumnya HDPE dan LDPE—seperti tutup botol galon dan botol oli. Saat ini, Ilham dan timnya tengah mengembangkan daur ulang untuk plastik kode PP (nomor 5) seperti gelas plastik. Mereka juga mendorong warga Giwangan untuk mencacah botol plastik, agar manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas.

Baca Juga: Sekolah Rakyat DIY Resmi Dibuka: 275 Siswa Miskin Dapat Pendidikan dan Asrama Gratis

Pasar Digital dan Misi Sosial

Produk Jogja Life Cycle sudah merambah pasar DIY hingga Jabodetabek, bahkan sempat menerima pesanan dari Jakarta sebanyak 400 tatakan gelas, 250 medali, dan 50 plakat. Semuanya dikerjakan dengan proses manual yang mengandalkan sumber daya manusia dari masyarakat sekitar.

“Harga produk kami bersaing. Misalnya coaster Rp 25 ribu, gelang Rp 30 ribu, tasbih Rp 35 ribu, kursi Rp 250 ribu, dan papan ukuran 1 meter Rp 250 ribu,” kata Ilham.

Wali Kota Hasto bahkan membayangkan produk-produk ini bisa masuk dalam program bedah rumah atau dijadikan suvenir khas dari warga dhuafa penggerobak sampah. Dengan pemikiran matang soal pemasaran dan distribusi, Jogja Life Cycle diyakini bisa tumbuh menjadi pusat pendapatan (revenue center) yang menjanjikan di tengah isu pelik sampah plastik. []

Related posts