BacaJogja – Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Bantul, kembali menggelar Upacara Adat Rebo Pungkasan 2025 pada Selasa, 19 Agustus 2025. Tradisi tahunan ini menjadi simbol pelestarian budaya Jawa sekaligus daya tarik wisata budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Acara dimulai pukul 19.00 WIB dari Masjid Taqwa Wonokromo 1, dilanjutkan dengan kirab budaya melalui rute Masjid Wonokromo – Jalan Imogiri Timur – Perempatan Jejeran – hingga berakhir di Pendopo Kalurahan Wonokromo. Prosesi utama, Nglarap Lemper Ageng, menjadi ciri khas perayaan ini. Lemper raksasa tersebut dipercaya sebagai simbol doa agar masyarakat diberikan keselamatan, rezeki, dan keberkahan.
Baca Juga: Kebakaran Sumur Minyak di Blora: 3 Orang Meninggal, Puluhan Warga Mengungsi
Selain sebagai ajang kebersamaan warga, Rebo Pungkasan juga dipercaya menyimpan nilai spiritual yang berakar kuat dalam sejarah. Menurut catatan Kundha Kabudayan DIY, ada tiga versi cerita di balik tradisi ini.
Versi pertama, tradisi ini berawal pada tahun 1784 ketika Kiai Faqih Usman atau Kiai Welit, tokoh agama dan tabib asal Wonokromo, dikenal mampu mengobati penyakit dengan cara suwuk. Saat terjadi pagebluk, banyak warga yang datang meminta berkah keselamatan, hingga kemudian Kiai Welit melakukan penyuwukan di pertemuan Kali Opak dan Kali Gajahwong.
Versi kedua, tradisi ini dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Agung, ketika Mataram dilanda wabah penyakit. Setelah mendapat ilham untuk membuat tolak bala, Sultan Agung meminta bantuan Kiai Sidik (Kiai Welit) untuk membuat rajah yang kemudian dijadikan air obat. Air tersebut dipercaya mampu menyembuhkan penyakit dan mendatangkan keberkahan.
Baca Juga: Bus Sinar Jaya Malioboro – Parangtritis: Rute, Jadwal, dan Harga Tiket Terbaru 2025
Versi ketiga, tradisi Rebo Wekasan diyakini sebagai upaya masyarakat menolak bala pada bulan Sura dan Sapar, yang dianggap rawan malapetaka. Kiai Welit kemudian membuat rajah yang dilarutkan di pertemuan Kali Opak dan Kali Gajahwong. Sejak itu, banyak warga percaya mandi atau mengambil air dari tempuran tersebut dapat membawa keselamatan.
Kini, Rebo Pungkasan bukan hanya perwujudan doa dan simbol keselamatan, melainkan juga ruang kebersamaan yang memperkuat identitas budaya masyarakat Wonokromo. Dengan kirab budaya dan prosesi unik Nglarap Lemper Ageng, tradisi ini terus hidup sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa yang diwariskan lintas generasi. []






