BacaJogja – Di tengah hiruk pikuk Piyungan yang kian modern, Masjid Al-Kautsar di Bintaran Kulon memilih jalan berbeda. Tak hanya menjadi pusat ibadah, masjid ini juga bergerak di bidang kewirausahaan jemaah. Dari tangan para bapak-bapak yang biasanya duduk bersila di serambi masjid, kini lahir tujuh minuman herbal yang diracik dengan penuh kesungguhan.
Iki Tabah, salah satu penggerak sekaligus marketing Rempah Sangaji, menuturkan bahwa cita-cita awal program ini adalah menjadikan masjid lebih mandiri. “Kami ingin masjid tidak tangan di bawah, tidak bergantung pada infak. Yang ada, kami ingin masjid itu ya memberi,” ujarnya.
Gagasan ini diwujudkan melalui pelatihan meracik jamu tradisional. Seorang jemaah yang sudah berpengalaman di dunia jamu membimbing mereka. Dari situ, lahirlah formula baru—jamu dengan rasa yang ramah bagi lidah anak muda, tetapi tetap kaya khasiat.
Baca Juga: 137 Siswa SMPN 3 Berbah Sleman Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis
April 2025 menjadi titik awal lahirnya brand Rempah Sangaji. Produk pertama mereka adalah jahe rempah premium. Namun, hanya dalam lima bulan, koleksi produknya berkembang pesat. Kini tersedia tujuh varian: jahe premium gula tebu, jahe premium gula aren, kunir asem, beras kencur, wedang bajigur, kopi rempah, hingga minuman herbal khusus wanita.
Proses produksinya masih berbasis rumahan dengan tenaga empat hingga lima orang. Setiap pekan, mereka mengolah sekitar 100 kilogram rempah seperti jahe, kunyit, kencur, kapulaga, serai, hingga kayu manis. Meski sederhana, semangat kebersamaan menjadikan tiap botol Rempah Sangaji sarat nilai gotong royong.
Baca Juga: Kisah Pilu Tukang Becak Yogyakarta, Ditemukan Meninggal di Atas Kendaraannya
Pemasaran dilakukan lewat jaringan takmir masjid, distributor, hingga reseller yang kini sudah menembus pasar luar kota, bahkan Lampung. Yang menarik, 30 persen keuntungan Rempah Sangaji langsung dialokasikan untuk kas Masjid Al-Kautsar. Laporan keuangan rutin disampaikan setiap bulan, menjaga transparansi sekaligus memperkuat kepercayaan jemaah.
“Jamu sejatinya warisan budaya luar biasa. Cuma memang anak muda sekarang ini tidak begitu akrab. Itu sebabnya kami hadir dengan rasa yang bisa diterima, tapi tetap menyehatkan,” terang Iki.
Dengan semangat kebersamaan, Masjid Al-Kautsar membuktikan bahwa masjid bisa lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia bisa menjadi pusat ekonomi, budaya, dan kemandirian umat—dari jemaah, oleh jemaah, untuk jemaah. []






