BacaJogja – Di tengah ramainya arus kendaraan bermotor yang setiap hari memenuhi jalanan Yogyakarta, ada momen istimewa yang menghadirkan suasana berbeda. Pada peringatan Hari Perhubungan Nasional ke-54, komunitas warga turun ke jalan bukan dengan mesin, melainkan dengan roda kayuh dan derap kaki kuda.
Becak, andong, dan sepeda onthel kembali menjadi raja jalanan, seolah mengembalikan Jogja ke masa ketika transportasi tanpa emisi menjadi bagian sehari-hari.
Becak berwarna cerah berderet di jalan, kuda-kuda andong melangkah anggun, sementara deretan onthel klasik melaju pelan membawa penumpangnya bernostalgia. Bukan sekadar parade, tetapi sebuah kampanye nyata: menjaga udara tetap bersih, melestarikan budaya, sekaligus meneguhkan identitas Jogja sebagai kota istimewa.
Baca Juga: Mantap! Layanan SIM Keliling Gunungkidul September 2025 Hadir di Pantai Baron
Pesan dari Komunitas
Ketua Komunitas Onthel Jadul Jogjakarta (Kodja), Oyok, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah langkah sederhana tapi berarti untuk mengurangi polusi udara.
“Harapannya, kegiatan seperti ini tidak hanya sekali dalam setahun. Kalau bisa rutin, agar udara Jogja tetap segar,” ucapnya penuh semangat.
Sementara itu, Wakil Ketua Paguyuban Divisi Kereta Berkuda Jogja Istimewa, Harsana, melihat acara ini dari sisi lain. Baginya, andong bukan sekadar moda transportasi, tetapi juga bagian dari Sumbu Filosofi yang kini diakui dunia sebagai warisan budaya.

“Ini momentum untuk promosi Jogja sekaligus menjaga tradisi. Kami berharap pemerintah bisa terus mendampingi agar komunitas seperti kami tetap bertahan,” katanya.
Baca Juga: Jadwal Pemeliharaan Jaringan PLN Yogyakarta, Rabu 10 September 2025: Ini Lokasi Listrik Padam
Antara Lingkungan dan Budaya
Dari dua suara itu, pesan yang tersampaikan sama: Jogja butuh udara sehat dan budaya yang tetap hidup. Becak, andong, dan sepeda onthel bukan hanya alat transportasi, tapi simbol harmoni antara manusia, lingkungan, dan sejarah.
Momen Harhubnas kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga Jogja tidak selalu butuh langkah besar. Cukup dengan mengayuh, menuntun, dan merawat warisan, kita bisa memberi arti.
Dan ketika suara klakson kendaraan bermotor kian bising, barisan becak, andong, dan onthel itu menyuguhkan harmoni yang menyejukkan. Sebuah pesan sederhana: transportasi tanpa emisi adalah warisan dan masa depan Jogja yang istimewa. []






