BacaJogja – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk mengurangi tekanan kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi (KSF), khususnya dari bus pariwisata. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi pelestarian kawasan warisan dunia UNESCO, sekaligus menjaga keberlanjutan sistem mobilitas dan pariwisata kota.
Salah satu upaya konkret yang tengah disiapkan adalah penyediaan Tempat Khusus Parkir (TKP) baru bagi bus pariwisata serta pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD). Kebijakan ini diarahkan untuk mengurangi masuknya kendaraan besar ke kawasan inti Sumbu Filosofi seperti Malioboro, Tugu Yogyakarta, dan sekitarnya.
Tekanan Lalu Lintas Jadi Tantangan Utama
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menyampaikan bahwa penetapan Sumbu Filosofi sebagai Warisan Dunia merupakan capaian strategis yang membanggakan, namun juga membawa konsekuensi besar dalam tata kelola kota.
“Salah satu tekanan terbesar datang dari pergerakan lalu lintas, khususnya bus pariwisata. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kelancaran mobilitas, tetapi juga pada kualitas kawasan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi pariwisata,” terangnya, Kamis (8/1/2026) di Ruang Yudistira Balai Kota Yogyakarta.
Menurut Agus, tanpa pengendalian yang tepat, lonjakan kendaraan besar berpotensi mereduksi nilai historis dan visual kawasan Sumbu Filosofi yang telah diakui dunia.
Terminal Giwangan Jadi Simpul Strategis Selatan Kota
Dalam konteks penataan tersebut, Terminal Giwangan dinilai memiliki posisi sangat strategis. Kawasan Yogyakarta bagian selatan ini tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi dan pintu masuk kota, tetapi juga diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah selatan.
Terminal Giwangan telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Kota dan menjadi lokus pembangunan prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah tahun 2025–2029.
Agus menambahkan, peluang pengembangan kawasan ini semakin terbuka setelah Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal.
“Pengelolaan Kawasan Terminal Giwangan merupakan bagian integral dari perjalanan strategis dan prioritas pembangunan Kota Yogyakarta, khususnya untuk mendorong pemerataan pembangunan wilayah selatan dan penguatan struktur ekonomi kota,” ungkapnya.
Master Plan Disusun Libatkan Banyak Pihak
Penguatan peran Terminal Giwangan dilakukan secara terencana. Agus menjelaskan bahwa master plan pengembangan kawasan Terminal Giwangan telah disusun melalui kajian lebih dari empat bulan.
Proses tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah tingkat kota dan provinsi, pelaku usaha, operator transportasi, pelaku pariwisata, hingga kalangan akademisi. Hasil kajian ini menjadi dasar pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan TOD yang terintegrasi.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa fokus utama kebijakan transportasi kota saat ini adalah mengurangi beban kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi.
“Kalau fokus kita adalah mengurangi beban di Sumbu Filosofi, maka langkah-langkahnya harus konkret ke arah sana. Yang pertama, tekanannya harus berkurang. Kalau tekanannya berkurang, otomatis bus tidak masuk ke kawasan inti,” tegas Hasto.
Ia mencontohkan kawasan Senopati yang selama ini menjadi salah satu titik tekanan akibat parkir dan aktivitas bus pariwisata. Menurutnya, penataan kawasan harus diawali dengan pengurangan beban kendaraan.
“Kita kondisikan Senopati supaya lebih baik dan tidak seperti sekarang. Langkah pertamanya ya bebannya dikurangi dulu. Setelah itu baru kita cari solusi lanjutan,” ujarnya.
Perhitungan Kapasitas Jadi Kunci
Hasto juga menekankan pentingnya perhitungan kapasitas secara realistis, baik pada hari biasa maupun saat musim puncak kunjungan wisata.
“Kita hitung dulu kapasitas yang ada, berapa bus per hari, hari biasa dan peak season. Setelah itu baru kita tentukan dialihkan ke mana. Pemikirannya dibalik, ini dibutuhkan atau tidak. Kalau dibutuhkan, bagaimana skenarionya,” jelasnya.
Dalam membangun sistem transportasi kota, ia menekankan prinsip bertahap namun visioner.
“Kita mulai dari yang bisa dijangkau sekarang, start small, act now, think big. Kita susun kerangka besar sistem transportasi Kota Yogyakarta yang ideal, supaya tidak tambal sulam dan tidak kontraproduktif dengan pembangunan ke depan,” katanya.
Pandangan pemerintah tersebut diperkuat oleh Akademisi Fakultas Teknik UGM, Muhammad Sani Roychansyah. Ia menyebut bahwa kajian pengendalian dan pengurangan beban di Sumbu Filosofi sejatinya telah berlangsung hampir satu dekade.
“Dalam konteks yang baru, terutama setelah penetapan UNESCO, pengurangan beban dan pengendalian Sumbu Filosofi menjadi semakin relevan dan perlu percepatan dalam realisasinya,” ungkapnya.
Melalui penataan parkir bus pariwisata, penyediaan TKP baru, serta pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan TOD, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap dapat menjaga kelestarian Sumbu Filosofi sekaligus membangun sistem mobilitas dan pariwisata kota yang lebih tertata, berimbang, dan berkelanjutan.[]






