BacaJogja – Di tengah gegap gempita wisuda program pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (21/10) lalu, sosok Amanda Eka Lupita menjadi sorotan. Wajahnya tampak sumringah ketika namanya disebut sebagai salah satu lulusan terbaik sekaligus termuda. Di antara 2.028 wisudawan magister, Amanda menorehkan prestasi luar biasa dengan meraih gelar master di usia 22 tahun 6 bulan—usia yang jauh lebih muda dibanding rerata lulusan program magister UGM, yakni 30 tahun 6 bulan.
Mahasiswi Magister Ilmu Hama Tanaman, Fakultas Pertanian UGM ini berhasil menempuh jalur cepat (fast-track) yang memungkinkan mahasiswa menempuh pendidikan S1 dan S2 secara berkesinambungan. Hebatnya lagi, Amanda hanya membutuhkan waktu 1 tahun 11 bulan untuk menuntaskan studinya di jenjang magister.
“Awalnya saya tidak menargetkan lulus cepat, tapi program fast-track memang sangat membantu. Saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan termuda di program ini,” ujar Amanda dengan senyum hangat.
Baca Juga: BMKG: Yogyakarta Potensi Diguyur Hujan Lebat hingga 27 Oktober, Warga Diminta Waspada
Namun, perjalanan akademik Amanda bukan tanpa rintangan. Ia sempat merasa kewalahan dengan beban riset dan tuntutan akademik yang tinggi. Di balik itu semua, Amanda menemukan makna mendalam dari proses belajar yang sesungguhnya.
“Itu jadi titik balik saya. Dulu saya ingin semua cepat selesai, tapi sekarang saya belajar menikmati prosesnya. Menjadi peneliti itu tanggung jawab besar, harus terus belajar dan tidak mudah menyerah,” tuturnya.
Bagi Amanda, pendidikan adalah investasi jangka panjang—nilai yang tertanam kuat dari keluarganya. “Jangan lihat gunung dari puncaknya, terus melangkah saja pelan-pelan. Dari situ saya sadar, penelitian bukan soal hasil, tapi tentang menikmati proses belajar dan terus berkembang,” katanya reflektif.
Kecintaannya pada riset tumbuh dari rasa ingin tahu terhadap hal-hal kecil yang memberi dampak besar bagi ekosistem pertanian. Dalam tesisnya, Amanda meneliti keberagaman bakteri endosimbion pada kutu kebul (Bemisia tabaci) di tanaman yang terinfeksi Begomovirus.
“Serangga tidak hidup sendiri. Mereka berinteraksi dengan bakteri yang bisa menularkan virus dan membantu beradaptasi dengan lingkungan,” jelasnya penuh semangat.
Baca Juga: Ribuan Santri Padati Paseban Bantul, Kobarkan Semangat Kebangsaan di HSN 2025
Kini, setelah resmi menyandang gelar magister, Amanda masih aktif membantu proyek penelitian dosen dan tengah menyiapkan manuskrip publikasi ilmiah dari hasil tesisnya.
Menutup kisahnya, Amanda berpesan agar generasi muda tidak takut berjalan perlahan dalam menapaki proses belajar. “Sekecil apa pun langkah kita, tetap saja itu kemajuan. Jangan takut sama perjalanan yang panjang, karena dari situ kita tumbuh dan menemukan jati diri kita sendiri,” ucapnya hangat.
Kisah Amanda menjadi bukti bahwa semangat, konsistensi, dan ketulusan belajar mampu membawa seseorang meraih puncak pencapaian tanpa harus terburu-buru. []






