BacaJogja – Suasana hangat penuh keakraban terasa pada Selasa malam (4/11), ketika Putri Kraton Yogyakarta, GKR Mangkubumi, menjamu dua pejabat penting dari Jepang—Ketua Dewan Prefektur Kyoto Ryuzo Aramaki dan Wakil Gubernur Kyoto Furukawa Hironiri—dengan sajian khas Yogyakarta, gudeg lesehan.
Bukan di restoran mewah, jamuan tersebut berlangsung di Warung Gudeg Ibukota, Jalan Solo, Yogyakarta—warung sederhana yang menjadi favorit banyak warga lokal. Di antara riuh kendaraan dan lantunan pengamen jalanan, mereka duduk lesehan beralas tikar sambil menikmati kuliner tradisional Jogja yang manis dan gurih.
Sebelum menikmati hidangan malam, rombongan Pemerintah Prefektur Kyoto terlebih dahulu diterima secara resmi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kepatihan Yogyakarta. Pertemuan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan 40 tahun kerja sama antara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Prefektur Kyoto.
Baca Juga: Turki Akan Bangun Pusat Budaya di Yogyakarta, Perkuat Hubungan 75 Tahun dengan Indonesia
Kedua daerah ini dikenal sebagai pusat kebudayaan yang menjunjung tinggi tradisi, namun tetap terbuka terhadap kemajuan zaman. Baik Yogyakarta maupun Kyoto sama-sama menempatkan nilai spiritual, kesederhanaan, dan keseimbangan alam sebagai fondasi pembangunan manusianya.
“Ya simpel aja, karena saya beberapa kali makan di sini. Saya ngajak mereka untuk merasakan makanan yang lokal banget, dan gudeg ini kan makanan tradisi Jogja,” ujar GKR Mangkubumi saat ditemui usai jamuan makan malam.
Sikap sederhana GKR Mangkubumi justru menjadi bentuk diplomasi budaya yang autentik dan membumi, memperlihatkan sisi hangat masyarakat Yogyakarta. Di tengah percakapan santai, para tamu dari Jepang tampak menikmati suasana yang berbeda dari jamuan resmi pada umumnya.
Wakil Gubernur Kyoto, Furukawa Hironiri, mengungkapkan apresiasi atas sambutan hangat keluarga Keraton dan masyarakat Yogyakarta. Ia menilai, nilai-nilai budaya Jawa memiliki banyak kesamaan dengan budaya Jepang, terutama dalam hal penghormatan terhadap alam, tata krama, dan kebijaksanaan dalam keseharian.
“Hubungan persahabatan ini penting untuk terus dijaga dan dikembangkan. Kami berharap kerja sama antara Kyoto dan Yogyakarta bisa meluas ke bidang lingkungan dan pendidikan generasi muda,” ungkap Furukawa.
Baca Juga: Sri Sultan HB X Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Raja Keraton Surakarta Pakubuwono XIII
Sementara itu, Murtijah, pemilik Warung Gudeg Ibukota, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia mengaku kaget sekaligus terharu warung sederhananya menjadi tempat jamuan tamu penting dari Jepang.
“Kalau dari keluarga Keraton sering makan di sini, tapi kalau sampai pejabat Jepang diajak ke sini, saya kaget. Senang sekali bisa dikunjungi Putri Dalem, apalagi mengajak pejabat luar negeri,” ujarnya tersenyum.
Menurutnya, malam itu menu paling banyak dipesan adalah gudeg dengan lauk paha ayam dan telur bacem. “Pokoknya maturnuwun sanget kagem Gusti Mangku, kok nggih kepikiran mriki. Rasane mak nyes teng ati,” imbuhnya dengan logat khas Jawa.
Momen sederhana di warung lesehan itu menjadi simbol kuat bagaimana budaya bisa menjembatani persahabatan antarbangsa. Dari gudeg di pinggir jalan, pesan kehangatan dan nilai-nilai kebersamaan mengalir, menegaskan bahwa diplomasi tak selalu harus berlangsung di ruang megah. []






