“Jembatan Kabanaran”: Nama Pemberian Sri Sultan HB X yang Menyimpan Jejak Perjuangan Mataram

  • Whatsapp
jembatan kabanaran mangkubumi
Presiden Prabowo meresmikan Jembatan Kabanaran di Bantul–Kulon Progo. Nama Kabanaran dipilih Sri Sultan HB X untuk mengangkat sejarah Pangeran Mangkubumi dan jejak perjuangannya. Simak makna dan faktanya di sini. (Pemda DIY)

BacaJogja – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan Jembatan Kabanaran pada Rabu siang, 19 November 2025. Jembatan yang sebelumnya dikenal publik sebagai Jembatan Pandansimo ini menjadi penghubung penting antara Bantul dan Kulon Progo di koridor Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden didampingi langsung oleh Gubernur DIY sekaligus Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Peresmian ini sekaligus menegaskan peran strategis jembatan tersebut bagi mobilitas warga di pesisir selatan.

Read More

Mengapa Bernama “Kabanaran”? Jejak Historis yang Dihidupkan Kembali

Penamaan baru ini bukan sekadar pergantian nama. Sri Sultan HB X memilih nama Kabanaran untuk mengangkat kembali nilai sejarah Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I) yang memiliki hubungan erat dengan kawasan ini.

Baca Juga: Xiangqi Resmi Hadir di Yogyakarta: PEXI DIY Sowan ke Sri Paduka Minta Arahan Pembinaan KONI

Secara geografis, Jembatan Kabanaran berada di perbatasan Sungai Progo, menghubungkan:

  • Banaran, Galur, Kulon Progo
  • Poncosari, Srandakan, Bantul

Namun makna sejarahnya jauh lebih dalam.

Markas Perjuangan Pangeran Mangkubumi

Desa Kabanaran adalah lokasi penting dalam sejarah perjuangan Pangeran Mangkubumi. Di tempat inilah beliau:

  • memproklamasikan diri sebagai Raja Mataram,
  • dianugerahi gelar Sunan Kabanaran pada 11 Desember 1749,
  • mendirikan kraton pertahanan,
  • mengonsolidasikan kekuatan hingga lahirnya Kesultanan Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti (1755).

Baca Juga: Kirab Merah Putih di Jogja Semarakkan Hari Toleransi Dunia, Wujud Kebersamaan Ragam Budaya Nusantara

Pada masa itu, Kabanaran bahkan berkembang seperti sebuah kota mandiri lengkap dengan pasar, permukiman, pusat pertahanan, hingga pelaksanaan Garebeg Mulud tahun 1750.

Sri Sultan ingin agar nilai sejarah ini—ketangguhan, persatuan, dan semangat perjuangan— kembali hadir sebagai inspirasi pembangunan masa kini.

Pranata Humas Ahli Madya Pemda DIY, Ditya Nanaryo Aji, S.H., M.Ec.Dev, menegaskan bahwa nama Jembatan Kabanaran adalah pilihan langsung Sri Sultan untuk menjaga warisan historis tersebut tetap hidup.

Dengan beroperasinya Jembatan Kabanaran, konektivitas Bantul–Kulon Progo melalui JJLS kini semakin lancar. Selain mempercepat arus logistik dan mobilitas wisatawan, jembatan ini juga menjadi simbol penting penyatuan nilai sejarah dengan pembangunan infrastruktur modern. []

Related posts