BacaJogja – Festival Anggrek Vanda Tricolor ke-8 kembali digelar di Selasar Pendopo Agung Royal Ambarrukmo, menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga flora endemik Merapi. Tidak hanya menampilkan keindahan anggrek, festival ini menjadi ruang refleksi lingkungan yang menekankan kolaborasi, edukasi, serta pelibatan masyarakat sebagai bagian dari identitas ekologis dan budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyampaikan apresiasi mendalam atas keberlanjutan acara yang kini memasuki tahun kedelapan. Menurutnya, perjalanan panjang ini tidak hanya mencerminkan pencapaian, tetapi juga komitmen yang konsisten dalam merawat flora khas Merapi.
“Delapan tahun bukan sekadar hitungan waktu, tetapi penanda kesungguhan dan dedikasi dalam merawat flora khas Merapi yang menjadi kebanggaan Daerah Istimewa Yogyakarta,” ujar Sekda DIY pada Sabtu (22/11).
Anggrek Merapi sebagai Simbol Ketahanan
Ni Made menegaskan bahwa Anggrek Vanda Tricolor bukan sekadar tanaman hias, tetapi simbol ketahanan dan daya lenting masyarakat Yogyakarta. Tumbuh di tanah vulkanik Merapi, anggrek ini mampu melalui abu panas serta perubahan alam ekstrem namun tetap memikat.
“Anggrek ini tumbuh di tanah vulkanik Merapi, mampu melewati abu panas dan perubahan alam yang keras, namun tetap memikat. Dari ketangguhan itulah kita belajar nilai daya lenting,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa merawat anggrek adalah bagian dari laku budaya yang sarat nilai-nilai konsistensi, kesabaran, dan harmoni dengan alam. Keanggunan anggrek dianggap selaras dengan filosofi Jawa tentang keseimbangan manusia dan alam—nilai yang hingga kini dijunjung masyarakat Yogyakarta.
Ruang Edukasi Publik tentang Konservasi
Sekda DIY berharap festival ini terus menjadi ruang edukasi publik yang memperkuat wawasan ekologis masyarakat. Ia menilai penyelenggaraan festival selama delapan tahun membuktikan kuatnya ekosistem konservasi anggrek di Yogyakarta.
“Kami menyambut baik kegiatan ini dan berharap terus memperkokoh kesadaran ekologis serta kebanggaan terhadap warisan alam Yogyakarta,” imbuhnya.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, turut memberikan apresiasi dan menilai festival ini membawa manfaat ekologis sekaligus ekonomi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan masyarakat dalam upaya menjaga keberlangsungan anggrek Merapi.
“Kami sangat berterima kasih kepada seluruh pihak, termasuk para akademisi yang terus melakukan inovasi dalam pembibitan sehingga anggrek insyaallah tidak akan punah,” Ujarnya.
Harda berharap festival ini dapat berlangsung setiap tahun dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Berawal dari Keprihatinan
Sri Suprih Lestari selaku inisiator festival menceritakan bahwa kegiatan ini bermula dari keprihatinan terhadap populasi Anggrek Vanda Tricolor yang terus menurun di lereng Merapi sejak beberapa tahun lalu.
“Pada tahun 2015, saya memberanikan diri memulai kegiatan kecil yang akhirnya tumbuh menjadi festival seperti hari ini,” ujarnya.
Tahun ini, penyelenggaraan festival mengalami peningkatan baik dari jumlah peserta, cakupan wilayah, maupun program edukatif yang ditawarkan. Hal ini menunjukkan semakin tingginya antusiasme publik terhadap konservasi flora Merapi.[]






