SMSR Yogyakarta Batalkan Pemangkasan Total Dua Pohon Munggur, Kepala Sekolah Sampaikan Permohonan Maaf Resmi

  • Whatsapp
SMSR jogja
SMK Negeri 3 Kasihan (SMSR Yogyakarta) secara resmi memutuskan untuk tidak melakukan pemangkasan total terhadap dua pohon munggur yang berada di lingkungan sekolah (Ist)

BacaJogja – SMK Negeri 3 Kasihan (SMSR Yogyakarta) secara resmi memutuskan untuk tidak melakukan pemangkasan total terhadap dua pohon munggur yang berada di lingkungan sekolah. Keputusan ini tertuang dalam surat resmi Kepala SMKN 3 Kasihan tertanggal 23 Desember 2025.

Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai masukan, saran, serta kajian seni dan budaya dari sejumlah pihak terkait, menyusul adanya rekomendasi awal penanganan mitigasi dari BPBD Bantul.

Read More

Dalam surat bernomor B/400.3.8/2024/SKB.5, Kepala SMKN 3 Kasihan, Ngadinem, S.Pd., M.Pd., juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pihak atas kesalahan dalam penyampaian informasi sebelumnya yang sempat menimbulkan keresahan.

“Sekolah memutuskan tidak melakukan pemangkasan total terhadap dua pohon munggur sebagaimana yang sebelumnya beredar,” tulis pihak sekolah dalam surat tersebut.

Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen SMKN 3 Kasihan dalam menjaga keseimbangan antara aspek keselamatan, lingkungan, serta nilai seni dan budaya, mengingat pohon-pohon tersebut memiliki makna tersendiri bagi lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

Pihak sekolah berharap keputusan ini dapat dipahami oleh seluruh elemen, mulai dari guru, karyawan, siswa, orang tua, komite sekolah, alumni, hingga masyarakat luas. Surat resmi ini telah ditandatangani secara elektronik dan dinyatakan sah sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebelumnya, sejumlah pihak melakukan penolakan terhadap rencana sekolah yang ingin memangkas dua pohon munggur yang sudah menjadi ikon sekolah tersebut. Penolakan tidak hanya datang dari masyarakat dan pemerhati lingkungan, tetapi juga dari kalangan siswa sendiri. Sejumlah siswa bahkan memasang spanduk penolakan di sekitar lokasi pohon, sebagai bentuk ekspresi sikap atas rencana yang dinilai terburu-buru dan minim dialog.[]

Related posts