BacaJogja — Kementerian Transmigrasi (Kementrans) Republik Indonesia terus mematangkan transformasi program transmigrasi nasional dengan mengusung paradigma baru. Jika pada masa lalu program transmigrasi cenderung bersifat sentralistik dan top-down, kini pendekatannya bergeser menjadi desentralisasi dan berorientasi bottom-up.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Transmigrasi RI, Drh. Viva Yoga Mauladi, M.Si., di sela-sela kegiatan pembekalan dan sosialisasi program transmigrasi di Yogyakarta.
Viva Yoga menjelaskan, program transmigrasi tahun ini menargetkan pengiriman 100 kepala keluarga (KK) secara nasional. Dari jumlah tersebut, mayoritas atau sebanyak 85 persen diprioritaskan bagi transmigran lokal.
“Dari 100 KK program nasional, 85 KK merupakan transmigrasi lokal dan 15 KK sisanya adalah transmigrasi karya nusa,” ujar Viva Yoga.
Perinciannya, sebanyak 50 KK transmigran lokal diperuntukkan bagi kawasan Batam, 20 KK di Halmahera Tengah, dan 30 KK di Poso, Sulawesi Tengah. Fokus besar pada transmigran lokal ini sejalan dengan kebijakan Menteri dan Wakil Menteri Transmigrasi untuk mengedepankan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan tujuan.
Sementara itu, untuk 15 KK transmigrasi karya nusa, peserta berasal dari daerah asal seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Lampung.
DIY Kirim 6 KK, Dibekali Keterampilan dan Ketahanan Mental
Khusus dari Wilayah DIY, terdapat 6 KK yang dipersiapkan untuk berangkat, terdiri dari 3 KK jalur reguler dan 3 KK jalur transmigran pengganti.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY, Ariyanto Wibowo, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa para calon transmigran telah melewati proses seleksi yang ketat, tak hanya dari segi teknis tetapi juga kesiapan mental.
“Sebelum pemberangkatan, kita lakukan seleksi untuk melihat minat, semangat, serta kemauan mereka. Selain dibekali keterampilan teknis pengolahan lahan, kami juga menggembleng soft skill dan mentalitas mereka agar mampu beradaptasi serta memecahkan masalah (problem solving) di lokasi tujuan,” terang Ariyanto.
Ariyanto berharap para transmigran tidak mudah putus asa ketika menghadapi kendala di lapangan, melainkan dapat mengolah potensi lahan yang ada secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Garansi Jaminan Hidup dan Infrastruktur Siap Pakai
Menanggapi kepastian jadwal keberangkatan, Dirjen Pembangunan & Pengembangan Kawasan Transmigrasi, Dr. Sigit Mustofa Nurudin, S.T., M.M., menyatakan bahwa penempatan para transmigran dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Pemerintah memastikan tidak akan memindahkan warga sebelum seluruh sarana dan prasarana penunjang siap 100 persen.
“Proses pembangunan infrastruktur seperti rumah hunian, jalan, pekarangan, hingga jaringan air bersih saat ini sedang difinalisasi. Begitu semua sempurna, baru pemberangkatan dilakukan pada bulan depan,” jelas Sigit.
Selama masa awal penempatan, pemerintah pusat dan daerah juga memberikan jaminan hidup (jadup) berkala selama satu tahun. Bantuan ini bertujuan untuk menyokong kebutuhan dasar keluarga selagi mereka mengolah lahan yang dialokasikan—baik untuk tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai, maupun tanaman perkebunan seperti kopi, durian, lada, dan pala.
Inovasi Sosialisasi Melalui Lomba Storytelling
Selain fokus pada penempatan, Kementrans mengapresiasi langkah inovatif Disnakertrans DIY yang menggelar lomba storytelling transmigrasi bagi generasi muda.
Menurut Viva Yoga, pendekatan edukasi berbasis digital dan naratif kreatif ini sangat krusial untuk meluruskan persepsi publik mengenai transmigrasi di era modern.
“Program transmigrasi saat ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan strategi besar untuk meningkatkan pendapatan warga, mengentaskan kemiskinan dari desa sesuai Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sekaligus memperkokoh keutuhan NKRI,” pungkas Viva Yoga. []






