BacaJogja – Kunjungan kerja delegasi perwakilan dunia usaha dan industri pertambangan Indonesia ke Rusia membuka babak baru dalam peta transisi energi nasional. Indonesia mulai secara konkret melirik teknologi Floating Power Unit (FPU) atau Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Terapung sebagai opsi realistis untuk menerangi wilayah pesisir, pulau-pulau terpencil, hingga kawasan industri berat.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi melihat langsung keandalan Akademik Lomonosov—PLTN terapung pertama dunia yang beroperasi di Pevek, Chukotka—serta memantau proses perakitan unit FPU-106 generasi baru berbasis reaktor keluarga RITM di galangan kapal Rusia.
Solusi Konkret Bagi Geografis Kepulauan Indonesia
Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM), Yudi Utomo Imardjoko, yang turut mendampingi kunjungan tersebut menuturkan bahwa FPU merupakan opsi jawaban atas tantangan geografis Indonesia.
“Bagi Indonesia, FPU merupakan salah satu solusi yang menarik untuk memasok listrik ke wilayah pesisir terpencil, pulau-pulau, serta fasilitas industri dan pertambangan berskala besar, terutama di lokasi yang pembangunan jaringan listriknya secara teknis kompleks atau secara ekonomi kurang layak,” ujar Yudi.
Keunggulan Utama FPU untuk Kebutuhan Energi Indonesia
Sebagai negara kepulauan, tantangan utama Indonesia sering kali bukan hanya ketersediaan pembangkit, melainkan cara mendistribusikan listrik ke lokasi yang terpencar dan terisolasi. Dalam konteks ini, teknologi FPU menawarkan sejumlah keunggulan praktis:
-
Distribusi Langsung Tanpa Transmisi Panjang: Pembangkit ditempatkan di atas fasilitas terapung di kawasan pesisir. Hal ini memungkinkan pasokan listrik langsung ke wilayah sasaran tanpa ketergantungan penuh pada pembangunan jaringan transmisi darat jarak jauh yang mahal dan rumit.
-
Solusi Kawasan Strategis dan Terpencil: Konsep modular terapung ini sangat ideal untuk menyuplai listrik di kawasan industri, pusat pertambangan, pulau-pulau luar, hingga kota pesisir yang mengalami keterbatasan infrastruktur.
-
Pasokan Stabil dan Bebas Cuaca: FPU mampu menghasilkan daya secara stabil dalam jangka panjang dengan faktor kapasitas yang tinggi. Pembangkit ini tidak terpengaruh oleh dinamika cuaca, sehingga dapat diandalkan untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Berbasis Pengalaman Kapal Pemecah Es Nuklir
Teknologi FPU Rusia dikembangkan oleh Mechanical Engineering Division Rosatom dengan memanfaatkan reaktor keluarga RITM. Pengembangannya berbasis pada pengalaman panjang pengoperasian reaktor nuklir pada armada kapal pemecah es Proyek 22220 Arktik seperti Arktika, Sibir, Ural, dan Yakutia.
Vladimir Aptekarev, Wakil Kepala Divisi Machine-Building Rosatom untuk Komersialisasi Solusi Floating Power, menegaskan kesiapan pihaknya memfasilitasi kebutuhan Indonesia.
“Rosatom memiliki pengalaman penuh seluruh daur hidup—mulai dari desain, manufaktur, hingga pembangunan dan pengoperasian. Khusus FPU, kami telah mengembangkan solusi untuk pasar internasional yang mempertimbangkan kondisi iklim negara-negara beriklim hangat seperti Indonesia,” ungkap Vladimir.
Menunggu NDA dan IGA: Sinyal Hijau Tingkat Tinggi
Progres kerja sama Indonesia–Rusia kini memasuki fase krusial dengan penyiapan dua dokumen payung hukum utama:
-
Non-Disclosure Agreement (NDA): Perlu ditandatangani oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) untuk membuka akses pertukaran rincian data teknis, sistem keselamatan, desain, dan keekonomian reaktor secara lebih mendalam.
-
Intergovernmental Agreement (IGA): Perjanjian antarpemerintah yang diharapkan mendapat komitmen langsung pada tingkat kepala negara.
Langkah strategis ini memperkuat komitmen Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu Presiden Prabowo Subianto, di mana pihak Rusia menyatakan kesiapan penuh memberikan dukungan dan keahlian untuk pengembangan energi nuklir Indonesia.
Peluang Produksi Radioisotop Medis
Selain pasokan listrik, kunjungan delegasi Indonesia ke Rusia juga membuka peluang kerja sama pemanfaatan reaktor ARGUS. Teknologi ini berpotensi dikembangkan di Indonesia untuk produksi radioisotop mandiri, baik untuk kebutuhan medis maupun aplikasi industri.
Meski peluang kian terbuka lebar, Yudi Utomo menyimpulkan bahwa Indonesia akan tetap meneliti aspek regulasi dan keselamatan secara ketat.
“Melihat langsung fasilitas yang beroperasi dan sedang dibangun memberikan perspektif yang jauh lebih konkret. Indonesia perlu memastikan seluruh persyaratan keselamatan, regulasi, dan kepentingan nasional terpenuhi secara mutlak,” tegas Yudi. []






