Berebut Berkah di Tanah Mataram: Ketika Gunungan Menyatukan Raja dan Rakyat Jogja

  • Whatsapp

BacaJogja – Pagi itu, langit di atas Kadipaten Pakualaman tampak bersih, seolah memberi restu bagi sebuah tradisi tua yang akan kembali dihidupkan. Udara membawa aroma dedaunan, tanah, dan semangat ribuan harapan. Di halaman Pura Pakualaman, masyarakat telah berkumpul, menanti sesuatu yang bukan sekadar simbol: gunungan.

Sabtu, 7 Juni 2025, menjadi momentum sakral bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya. Dalam balutan tradisi Hajad Dalem Garebeg Besar, satu gunungan dari Keraton Yogyakarta kembali diarak menuju Pura Pakualaman. Sebuah perwujudan rasa syukur Raja kepada Tuhan Yang Maha Esa atas datangnya Iduladha – dan bentuk cinta kepada rakyatnya.

Read More

Gunungan tak berjalan sendiri. Ia dikawal empat ekor gajah megah, gagah, dan penuh wibawa, serta barisan prajurit Dragunder dan Plangkir dari Pura Pakualaman. Bunyi derap kaki dan tabuhan alat musik tradisional seolah membelah waktu – membawa semua yang hadir menyelami akar budaya Mataram yang dalam.

Baca Juga: HUT ke-78 Pemkot Yogya: Kirab Pusaka hingga Balai Kota Memasak untuk Pasukan Kuning

Gunungan: Doa yang Dibalut dalam Hasil Bumi

Setibanya di pelataran Pura, gunungan disambut dengan doa dan serah terima secara simbolis. GKBRAA Paku Alam, mewakili Kadipaten Pakualaman, dengan khidmat mengambil sebagian ubarampe gunungan – sayur mayur yang tumbuh dari tanah Mataram: kacang panjang, cabai, dan aneka hasil bumi lainnya.

Bagi sebagian orang, mungkin hanya kacang panjang. Tapi bagi masyarakat Yogyakarta, itulah berkah.

“Kita ngalap berkah. Masyarakat bisa ikut merasakan, walau hanya sedikit, tapi itu dari kerajaan. Itu simbol,” ujar Gusti Putri.

Ia melanjutkan, gunungan tidak sekadar dilihat sebagai tradisi turun-temurun, tetapi sebagai warisan nilai, kebijaksanaan, dan spiritualitas. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang melestarikan budaya ini?”

Baca Juga: Menjelajah Rasa di Kulon Progo: 6 Kuliner Legendaris yang Menyimpan Cerita

Rasa yang Mengakar, Tradisi yang Mengalir

Setelah doa usai, gunungan dibawa ke Alun-Alun Pura Pakualaman. Di sana, lautan manusia telah menanti dengan penuh harap dan antusiasme. Mata-mata bersinar menatap gunungan seakan memandang berkah yang turun dari langit.

Dalam hitungan detik, gunungan pun habis. Bukan karena keserakahan, melainkan karena keyakinan: setiap helai daun, setiap butir biji yang mereka genggam, menyimpan keberkahan dari para leluhur.

Ni Kadek Ayu Alvina Damayanti, mahasiswi asal Kediri, tersenyum lebar. Ini kali pertama ia mengikuti garebeg. “Dapat kacang panjang. Mau disimpan buat kenang-kenangan. Ini pengalaman yang nggak bisa dilupakan,” katanya sambil tertawa kecil.

Berbeda lagi dengan Sukamti Ningsih, warga Bantul. Ia sudah sering datang ke prosesi ini. Namun baru kali ini mendapat ubarampe gunungan. “Nanti saya tanam di pot. Satu-satu saja, siapa tahu bisa tumbuh. Biar berkahnya terus hidup di rumah saya,” ujarnya haru.

Baca Juga: Garebeg Besar 2025 di Yogyakarta: Gunungan, Nyadhong, dan Filosofi Kehidupan

Lebih dari Sekadar Ritual

Garebeg Besar bukan hanya soal budaya, bukan pula sekadar prosesi. Ia adalah cara kerajaan mengulurkan tangan kepada rakyatnya. Menyatukan yang di atas dan di bawah, dalam satu harmoni bernama kepercayaan dan warisan.

Gunungan bukan hanya simbol kerajaan. Ia adalah doa yang bisa disentuh, syukur yang bisa dibawa pulang. Dan dalam setiap kacang panjang, daun, dan cabai yang dibagikan, ada cerita tentang tanah, waktu, dan rasa.

Yogyakarta hari itu kembali mengajarkan pada dunia: bahwa budaya sejati bukan untuk ditonton, melainkan untuk dirasakan – dan diwariskan. []

Related posts