Menyusuri Jejak Buddha di Prambanan: Keheningan Candi Banyunibo yang Memikat

  • Whatsapp
Candi Banyunibo
Candi Banyunibo di Prambanan Sleman. (Ist)

BacaJogja – Di balik riuhnya kawasan Prambanan yang masyhur dengan kemegahan Candi Hindu, tersembunyi sebuah situs sunyi yang menyimpan jejak spiritual Buddha dari masa lampau. Namanya Candi Banyunibo—sebuah candi mungil namun memesona yang terletak di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak jauh dari kompleks Ratu Boko, Candi Ijo, dan Candi Barong, Banyunibo berdiri dengan tenang dikelilingi hamparan hijau ladang tebu dan sawah yang memanjakan mata. Di sinilah, sejarah dan kesunyian menyatu dalam sebuah lanskap yang menenangkan jiwa.

Read More

Air yang Menetes, Damai yang Mengalir

Nama “Banyunibo” berasal dari bahasa Jawa: banyu berarti air, dan nibo berarti menetes. Menariknya, tak ada tetesan air ataupun sumber mata air di sekeliling candi ini. Namun, seperti air yang menetes perlahan, keindahan dan ketenangan Banyunibo meresap diam-diam ke dalam hati setiap pengunjung yang datang.

Baca Juga: Menyapa Matahari di Puncak Kosakora Gunungkidul: Simfoni Laut dan Bukit di Atas Awan

Berdiri sendiri sebagai candi tunggal, Banyunibo memiliki ukuran 15,3 x 14,25 meter dengan tinggi menjulang hingga 14,25 meter. Atapnya yang bertinggi sekitar 2,75 meter menaungi sebuah ruangan dalam yang bisa dimasuki, meski hanya untuk lima orang dalam waktu singkat—maksimal 15 menit—demi menjaga kelestariannya.

Pesona Buddha di Tengah Kawasan Hindu

Meski berada di Kecamatan Prambanan yang identik dengan Candi Hindu terbesar di Indonesia, Candi Banyunibo justru bercorak Buddha. Dibangun pada abad ke-9 sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, candi ini menjadi saksi percampuran budaya dan keyakinan yang harmonis di tanah Jawa.

Sebuah stupa setinggi 3,5 meter berdiri di puncaknya—simbol khas arsitektur Buddha yang membedakannya dari candi Hindu yang biasanya berfungsi sebagai makam. Banyunibo, sebaliknya, lebih merupakan tempat untuk ibadah dan perenungan.

Baca Juga: 7 Wisata Keluarga di Jogja yang Wajib Dikunjungi: Edukasi, Alam, dan Serunya Wahana Bermain

Hampir seluruh permukaan Candi Banyunibo dihiasi ornamen dan relief yang mencuri perhatian. Di bagian kaki candi, pahatan berbentuk tumbuh-tumbuhan menghiasi dinding, memberi kesan alami dan hidup. Relief ini, meskipun telah berusia lebih dari seribu tahun, masih tampak anggun dan terawat.

Lebih dari itu, Banyunibo juga dikelilingi oleh enam candi perwara—candi pendamping berbentuk seperti stupa kecil yang berada di sisi selatan dan timur. Di sisi utaranya, tembok sepanjang 65 meter membentang dari barat ke timur, seakan menjadi pelindung sunyi dari dunia luar.

Lanskap Asri nan Menenangkan

Yang membuat kunjungan ke Candi Banyunibo semakin istimewa adalah suasananya yang alami. Jalan menuju candi masih dilapisi rumput hijau yang terawat. Udara segar dan pemandangan ladang serta sawah membuat tempat ini lebih terasa seperti ruang perenungan terbuka daripada destinasi wisata biasa.

Namun, karena terbuka dan minim pepohonan rindang, pengunjung disarankan membawa topi atau payung untuk melindungi diri dari teriknya matahari saat menjelajahi kompleks ini.

Candi Banyunibo bukan hanya destinasi sejarah, tapi juga pelarian sempurna dari hiruk-pikuk kehidupan. Ia menawarkan ketenangan, keindahan, dan kebijaksanaan dalam bentuk paling sederhana. Di sinilah sejarah tidak berteriak, tapi berbisik lembut—mengajak siapa saja yang mendengar untuk memahami makna keheningan yang sejati. []

Related posts