Kenduri Kupatan Jolosutro, Jejak Syukur yang Tak Pernah Putus di Piyungan Bantul

  • Whatsapp
Tradisi Kupatan Jolosutro
Warga Dusun Jolosutro, Piyungan, Bantul menggelar Tradisi Kupatan atau Merti Dusun di kompleks makam Sunan Geseng. (Ist)

BacaJogja — Di balik perbukitan yang tenang di Dusun Jolosutro, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, semangat kebudayaan terus menyala. Kamis malam (24/7/2025), warga Kring Jolosutro kembali menggelar Doa Tahlil dan Kenduri Besar sebagai bagian dari rangkaian Tradisi Kupatan Jolosutro atau Merti Dusun, yang rutin digelar tiap tahun.

Kegiatan yang berlangsung di kompleks makam Sunan Geseng itu menyatukan warga dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Dimulai pukul 20.00 WIB, acara diawali dengan sambutan dari tokoh masyarakat, lalu dilanjutkan dengan doa tahlil yang dipimpin oleh Juru Kunci Makam Sunan Geseng, Bapak Supardiyono.

Read More

Puncaknya, warga Kring Jolosutro duduk bersama dalam kenduri, menyantap hidangan yang telah disiapkan bersama dengan penuh syukur.

Baca Juga: Kodim Jogja Fest 2025 Hadirkan Nuansa Tempo Doeloe, Meriahkan Akhir Juli di Yogyakarta

Kehadiran AKP Moh Widayadi Sanani selaku Kanit Binmas Polsek Piyungan beserta anggota turut menandai dukungan dari aparat keamanan terhadap kegiatan kultural masyarakat. Bukan sekadar simbol kehadiran, namun juga bentuk nyata sinergi antara kepolisian dan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah napas yang menghidupkan kembali jejak sejarah dan warisan spiritual yang telah dijaga turun-temurun sejak masa Sunan Geseng. Kupatan atau Rasulan — begitu masyarakat menyebutnya — merupakan wujud rasa syukur atas hasil pertanian serta harapan akan keberkahan dan keselamatan kampung halaman.

Baca Juga: Siraman Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti, Simbol Moralitas Pemimpin Yogyakarta

Secara tradisional, Kupatan Jolosutro digelar setiap tahunnya pada Senin Legi di bulan Sapar selepas waktu dzuhur. Lokasi utama pelaksanaannya berada di lapangan Jolosutro, di mana masyarakat beramai-ramai membawa uba rampe berupa nasi gurih, ayam ingkung, dan aneka jajanan pasar, yang tertata rapi dalam jodhang buatan masing-masing RT. Bukan hanya makanan, tetapi juga simbol kerukunan, gotong-royong, dan rasa memiliki.

Masyarakat Jolosutro masih memegang erat nilai-nilai warisan leluhur mereka. Tradisi ini bukan hanya menjaga hubungan manusia dengan Sang Pencipta, namun juga memperkuat ikatan sosial antarwarga di tengah derasnya arus modernisasi.

Dari Jolosutro, kita belajar: bahwa adat bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi juga pelita yang terus menerangi jalan hidup hari ini dan esok. []

Related posts