BacaJogja – Pemkab Bantul melakukan kunjungan kerja ke Kota Malang pada Sabtu (25/4/2026). Kunjungan ini menjadi ajang strategis untuk bertukar pengalaman terkait pengelolaan bangunan heritage hingga strategi menghadapi keterbatasan anggaran daerah.
Rombongan Pemkab Bantul dipimpin langsung oleh Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, didampingi Sekretaris Daerah Agus Budi Raharja, Kepala Diskominfo Bobot Ariffi’ Aidin, serta sejumlah awak media. Kedatangan mereka disambut oleh Penjabat Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama jajaran, termasuk Sekda Kota Malang Erik Setyo Santoso.
Dalam sambutannya, Wahyu Hidayat menekankan pentingnya kehadiran media dalam kunjungan kerja tersebut. Menurutnya, media memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap jalannya pembangunan.
“Kolaborasi antara pemerintah, media, dan kampus sangat penting untuk memperkuat narasi pembangunan daerah yang transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Abdul Halim Muslih memaparkan arah pembangunan Kabupaten Bantul ke depan. Ia menyoroti potensi besar sektor pendidikan, terutama dengan banyaknya perguruan tinggi yang berkembang di wilayahnya.
“Ke depan, Bantul berpotensi menjadi daerah dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak. Selain itu, posisi geografis Bantul sebagai muara sungai di DIY menjadikannya penyangga lingkungan hidup yang sangat penting,” jelasnya.
Tantangan Efisiensi Anggaran Daerah
Diskusi juga mengerucut pada isu krusial, yakni efisiensi anggaran di tengah penurunan transfer dana dari pusat. Sekda Kota Malang Erik Setyo Santoso mengungkapkan bahwa pihaknya menghadapi pengurangan anggaran hingga ratusan miliar rupiah.
“Pemangkasan Transfer ke Daerah berdampak signifikan. Kami harus menutup kekurangan sekitar Rp350 miliar. Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi tantangan tersendiri karena terbentur regulasi pajak. Karena itu, efisiensi adalah langkah utama,” paparnya.
Melalui kunjungan ini, Pemkab Bantul dan Pemkot Malang diharapkan dapat memperkuat sinergi, khususnya dalam menghadapi tantangan perkotaan yang serupa. Mulai dari pelestarian bangunan bersejarah (heritage), penguatan sektor pendidikan, hingga pengelolaan fiskal yang adaptif di tengah keterbatasan anggaran.
Kunjungan ini juga menjadi contoh nyata pentingnya kerja sama lintas daerah sebagai solusi menghadapi dinamika pembangunan yang semakin kompleks. []






