BacaJogja – Forum Jurnalis Jogja (FJ2) menggelar touring sepeda motor menyusuri jejak perjuangan Pangeran Diponegoro, Sabtu (2/8/2025), dalam rangka memperingati 200 tahun meletusnya Perang Jawa. Kegiatan yang didukung oleh 76Rider dan EIGER ini melibatkan jurnalis dari berbagai media di Yogyakarta dan menyusuri sejumlah lokasi bersejarah di DIY dan Jawa Tengah yang menjadi saksi perjuangan sang pahlawan nasional.
Rombongan memulai perjalanan dari Pendopo Pangeran Diponegoro di Kemantren Tegalrejo, Yogyakarta—kediaman sekaligus basis perjuangan sang pangeran dalam melawan kolonial Belanda.
Baca Juga: Meriah! Bantul Creative Carnival 2025 Tampilkan Parade Budaya di Malam Hari
Ketua FJ2, Chaidir, menyampaikan bahwa touring ini bukan hanya mengenang sejarah, tapi juga mengajak generasi muda untuk lebih dekat dengan nilai perjuangan. “Sambil naik motor, kami mengunjungi sejumlah tempat bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah di Jateng dan DIY,” ujarnya.

Perjalanan berlanjut ke Magelang, menyusuri jalur Klangon–Dekso dan singgah di Gerbang Samudra Raksa, Kulon Progo. Di Magelang, peserta diajak menapaktilasi ruang perundingan bersejarah di Museum Diponegoro. Lokasi ini menjadi tempat Pangeran Diponegoro dijebak saat perundingan dengan Jenderal De Kock pada 28 Maret 1830, sebelum akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Manado hingga wafat di Makassar.
Museum dan Masjid: Dua Saksi Abadi Perjuangan Sang Pangeran
Museum Diponegoro di Jl. Pangeran Diponegoro No. 1, Magelang, menjadi sorotan utama dalam touring ini. Ruangan berukuran sekitar 36 meter persegi menyimpan berbagai peninggalan seperti kursi berbekas cengkeraman kemarahan Diponegoro, jubah dengan bercak darah, kitab Ta’rib, hingga teko dan cangkir yang ia gunakan semasa tinggal di Bantul. Dinding ruangan juga dihiasi lukisan-lukisan ikonik karya Raden Saleh, termasuk adegan penangkapan sang pangeran.
Baca Juga: Jadwal Lengkap SIM Keliling dan SIM Corner Polda DIY Agustus 2025, Ini Lokasi dan Jamnya!
Masih di Megalang, tepatnya di Masjid Langgar Agung di Dusun Kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, juga menjadi bagian dari jejak sejarah. Masjid ini dulunya merupakan langgar sederhana tempat pasukan Diponegoro menunaikan salat sebelum perundingan dengan Belanda. Kini, bangunan tersebut menjadi masjid permanen yang berdiri megah sejak 1972, lengkap dengan kompleks pendidikan di sekitarnya.

Setiap 8 Januari, masyarakat setempat rutin menggelar Haul Pangeran Diponegoro sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya. Peringatan ini digelar besar-besaran dua tahun sekali dengan berbagai kegiatan keagamaan bernuansa Islam, menjadikan masjid tersebut tak hanya situs religi, tapi juga pusat edukasi sejarah.
Menghidupkan Ingatan, Merawat Semangat Perjuangan
Touring sejarah ini menjadi simbol penting dalam menjaga ingatan kolektif terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro. Melalui aktivitas lintas komunitas seperti yang dilakukan FJ2, sejarah tak hanya dibaca dari buku, tetapi juga dirasakan langsung lewat pengalaman menjelajah tempat-tempat bersejarah.
Jejak langkah sang pahlawan, dari Tegalrejo hingga Magelang, terus menyala sebagai pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia diraih lewat darah dan pengorbanan. []






